Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, March 23, 2018

Unknown

Bukan Kehendakku, Tetapi Kehendak Tuhanlah yang Terjadi

























Lukas 22:41-42
JIKA berdoa, apa yang kita minta pada Tuhan ? Tentu banyak. Yang sering kita minta, biasanya yang pertama adalah minta kesehatan, minta umur panjang, minta kekayaan dan juga minta jabatan serta lain sebagainya. 
Bahkan sering yang kita minta kalau boleh Tuhan segera mengaruniakan semua itu sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya ada yang kecewa jika belum atau tidak mendapatkannya.
Lebih dari itu ada yang berhenti untuk berdoa. Ada yang berpikir bahwa percuma berdoa, Tuhan tidak mendengar doa saya apalagi kalau Hal ini ditunjukkan oleh Yesus, ketika Ia berdoa, Ia bukan saja mengekspersikan kepasrahan tapi meng-ekspresikan ketaatan mutlak pada kehendak Bapa di Sorga. Ia meminta kepada Bapa jikalau boleh cawan penderitaan berlalu dari pada-Nya; tetapi dalam ketaatan-Nya pada Bapa, Ia berkata : tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Sebagai keluarga Kristen, tiap-tiap kita mempunyai berbagai kebutuhan dan keinginan. Semua ini sering kita nyatakan dalam doa kepada Tuhan. Dan kalau kita berdoa, maka janganlah kita berdoa menurut keinginan kita masing-masing  atau memaksa apalagi seperti mengatur Tuhan untuk melakukan sesuatu pada kita.
Sadar atau tidak, kita menjadikan Tuhan seperti pembantu kita untuk melakukan ini dan itu. Seharusnya kita mengatakan : biarlah kehendak Tuhan yang jadi, bukan kehendak kami. Semoga hal ini dapat kita praktekkan dalam kerja, karya dan doa kita. Amin. lama berdoa ,  sudah bertahun-tahun, siang dan malam berdoa, tidak ada jawaban.
Jika kita belajar dari bagian ayat yang kita baca ini , ternyata berdoa bukalah hal yang mudah tetapi juga bukan hal sulit karena ternyata berdoa berkaitan dengan soal kepasrahan hati, yakni kepasrahan untuk mengatakan bukan kehendak saya yang jadi tapi kehendak Tuhan. 

Doa :  Bapa di Sorga kami percaya bahwa Engkau selalu mendengar doa kami. Banyaklah yang kami mintakan kepada-Mu. Kami percaya sebelum kami menyatakan-Nya, Engkau telah mengetahuinya. Kamipun bermohon jadilah kehendak-Mu dalam keluarga kami, bukan kehendak kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.


Read More

Thursday, March 22, 2018

Unknown

APAKAH ANDA DATANG KE GEREJA SEBAGAI KONSUMEN ?







APAKAH ANDA DATANG KE GEREJA SEBAGAI KONSUMEN?


Philip Yancey |

Memandang ke Sekeliling
Saya terbiasa datang ke gereja dengan semangat konsumen. Saya memandang pujian seperti sebuah pertunjukan. Berikan saya sesuatu yang saya suka. Hiburlah saya.

Soren Kierkegaard berkata bahwa kita cenderung berpikir bahwa gereja itu seperti sebuah teater: kita duduk sebagai penonton, dengan penuh perhatian menonton sang aktor yang berada di atas panggung yang berusaha menarik setiap pasang mata untuk melihatnya. Kalau memuaskan, kita berterima kasih dengan bertepuk tangan atau memberikan sorakan. Namun, sebenarnya gereja harus menjadi yang sebaliknya dari teater. Di dalam gereja Tuhanlah yang menjadi penonton dan bukannya kita.

Pada akhir dari puji-pujian, pertanyaan yang seharusnya dikemukakan bukanlah, “Apa yang saya dapatkan dari semua ini?” tetapi “Apakah Tuhan puas dengan apa yang sudah terjadi?” Sekarang, sewaktu kebaktian penyembahan, saya mencoba untuk mengarahkan pandangan saya kepada Tuhan, dan bukannya pada apa yang saya lihat di atas podium.

Perubahan semacam ini menolong saya untuk menghadapi kekurangan-kekurangan yang saya temui di dalam berbagai macam gereja. Beberapa gereja melibatkan orang awam untuk terlibat di dalam penyembahan. Mereka mengarang lagu atau puisi, memainkan drama singkat, bernyanyi dalam trio dan mengekspresikan diri mereka dengan tari-tarian. Saya mengakui bahwa dengan penilaian standar estetika yang obyektif, dan bahkan dengan standard “cara menyembah” yang subyektif,  banyak dari cara-cara yang semacam ini tidak mempertinggi nilai penyembahan saya.

Saya mencoba belajar dari C.S Lewis, yang menulis tentang gerejanya sebagai berikut:
"Saya Sangat Tidak Menyukai Himne-Himne Dengan Nada-Nadanya Yang Membosankan. Tetapi Ketika Saya Sadar Bahwa Himne-Himne Tersebut Bagaimanapun Juga Dinyanyikan Dengan Penuh Kesetiaan Oleh Seorang Tua Yang Saleh Yang Mengenakan Sepatu Bot Dan Duduk Di Seberang Bangku Gereja Dan Kemudian Anda Sadar Bahwa Sebenarnya, Membersihkan Sepatu Botnya Pun Anda Tidak Layak. Dan Hal Ini Akan Menghilangkan Kesombongan Saya Yang Tersembunyi."

Pada prinsipnya, gereja berdiri untuk kita memuji Tuhan, bukannya untuk menyediakan hiburan atau memberi semangat kepada orang-orang yang terluka atau membangun kepercayaan diri atau memberi fasilitas dalam menjalin persahabatan;  kalau kita gagal dalam hal memuji Tuhan, berarti kita gagal secara keseluruhan.

Di dalam gereja, saya dapat melihat ke podium sebagai penonton, atau saya juga bisa melihat ke atas, kepada Tuhan. Allah pernah berkata kepada bangsa Israel, “Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu dan kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” Karena banyak memperhatikan hal-hal di luar penyembahan, akibatnya mereka sudah kehilangan tujuan keseluruhan.

Allah hanya tertarik dengan korban persembahan hati, sikap penundukan diri, dan pengucapan syukur. Sekarang, sewaktu saya menghadiri gereja, saya mencoba untuk memfokuskan diri pada keadaan rohani yang ada di dalam diri saya sendiri daripada hanya duduk di bangku gereja, seperti yang terjadi di dalam sebuah teater dan membuat penilaian-penilaian estika.

(Dikutip dan diedit seperlunya dari buku Gereja: Mengapa dirisaukan?)




Read More

Monday, July 17, 2017

Admin

GEREJA YANG BERBAGI

By  
Renungan, Selasa 18 Juli 2017

Baca: 2 Korintus 9:6-15

Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7)

Seorang penulis anonim bersyair tentang gereja yang hidup dan yang mati: Gereja yang hidup selalu mengeluarkan dana lebih besar dari pendapatannya; gereja yang mati tidak butuh banyak uang. Gereja yang hidup mendukung pelayanan misi; gereja yang mati menyimpan sendiri uangnya. Gereja yang hidup penuh dengan orang yang memberi dengan sukacita; gereja yang mati penuh dengan penggerutu yang susah memberi. Gereja yang hidup mensponsori dibukanya gereja baru; gereja yang mati takut berbagi dana, waktu, dan talenta. Gereja yang hidup berani berbagi oleh iman mereka dalam Kristus; gereja yang mati merasa tak punya cukup sumber daya untuk berbagi! 

Paulus menegaskan bahwa ketika kita berani berbagi dan memberi, maka kita akan diperkaya secara rohani. Dan, secara mengejutkan, hati orang yang memberi dengan sukacita tidak akan merasa kehilangan. Sebab, setiap orang yang memberi, ia juga melayani. Hal ini melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (ay. 12). Menurut penelitian A.T. Robertson, bahasa asli kata “melimpahkan” di sini berarti “memenuhi dengan menambahkan terus”. Betapa indahnya bila segala berkat rohani itu terus ditambahkan bagi kita—tak habis-habis—yakni saat kita mulai berbagi! 

Agar gereja bertumbuh, hidup, dan bergerak dinamis, mau tak mau ia harus berbagi. Ketika setiap anggotanya punya gaya hidup saling berbagi dan memberkati, maka ucapan syukur terus bertambah. Pelayanan pun terus bergerak dan berkembang. Lebih banyak jiwa terus tertarik untuk bergabung. Mari, hidupkan gereja kita!

—AW/www.renunganharian.net

                                                 KETIKA GEREJA MULAI TERBUKA UNTUK BERBAGI 
BARULAH IA MULAI DITERIMA SEBAGAI SAKSI
Read More

Thursday, July 13, 2017

Admin

Bertatap Muka

By  
Renungan, Jumat 14 Juli 2017

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11

 Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.

Kita melihat hubungan seperti itu terjadi antara Tuhan dengan Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Musa semakin mantap mengikut Allah. Ia bahkan terus mengikut Allah walaupun bangsanya memberontak dan menyembah berhala. Setelah bangsa itu menyembah anak lembu tuangan dan bukan Tuhan (lihat Kel. 32), Musa mendirikan kemah di luar perkemahan sebagai tempat untuk bertemu Allah, sementara bangsa itu melihatnya dari kejauhan (33:7-11). Ketika tiang awan yang melambangkan kehadiran Allah turun ke kemah itu, Musa berbicara atas nama bangsanya. Allah berjanji bahwa kehadiran-Nya akan menyertai mereka (ay.14).

Karena kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita tidak lagi membutuhkan seseorang seperti Musa untuk berbicara kepada Allah bagi kita. Sebaliknya, seperti yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya, kita dapat menjalin persahabatan dengan Allah melalui Kristus (Yoh. 15:15). Kita pun dapat berjumpa dengan Allah, saat Dia berbicara kepada kita seperti seseorang berbicara kepada sahabatnya. —Sheridan Voysey

Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal. Tuhan Yesus, Juruselamat, Pengasihku yang kekal! —Carrie E. Breck (Kidung Jemaat, No. 267)

Kita dapat berbicara kepada Tuhan layaknya berbicara dengan sahabat.
Read More

Wednesday, July 12, 2017

Admin

KETIKA SITUASI SULIT

By  

Renungan, Kamis 13 Juli 2017

KETIKA SITUASI SULIT

Baca: Keluaran 2:1-10

Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani” (Keluaran 2:6) 

Jika berada dalam situasi sulit dan penuh risiko, bagaimana Anda menghadapinya? Mundur sebelum berjuang, pasrah tanpa usaha, atau menghadapinya habis-habisan? Ada sisi menarik dari bacaan hari ini yang dapat kita jadikan pelajaran.

Peristiwa penyelamatan bayi Musa dari bahaya melibatkan peran penting para perempuan di sekitarnya—dan masing-masing mewakili satu sikap. Sifra dan Pua adalah bidan yang takut akan Allah sehingga mereka enggan membunuh bayi Ibrani, meski tindakan itu bertentangan dengan aturan raja (1:17).

Yokebed adalah ibu yang kreatif memecahkan masalah (ayat 3). Ini tampak lewat gagasannya untuk menyelamatkan bayi Musa. Miriam, sang kakak, ialah pribadi pemberani. Ia tidak takut menemui putri Firaun demi perawatan adik bayinya (ayat 4, 7). Dan, putri Firaun ialah pribadi yang berbela rasa walau ia tahu bayi Musa adalah bayi orang Ibrani, kaum yang menjadi budak di negerinya (ayat 6).

Bahkan, dalam belas kasihnya, Putri Firaun mengangkat bayi itu sebagai anak (ayat 10). Takut  akan Tuhan,  kreativitas, keberanian, dan belas kasihan—itulah sikap-sikap dari para pribadi yang menghantar Musa kecil selamat dan bertumbuh besar (ayat 10).

Tentu ada banyak sikap yang bisa kita ambil sebagai respons saat menghadapi situasi sulit; dengan aneka rupa dampak yang mengikutinya. Keempat sikap yang kita cermati hari ini—di dalam kesadaran penuh akan kedaulatan Allah yang terlibat dan memegang kendali atas situasi apa pun—merupakan respons yang tepat dalam menghadapi situasi sulit yang bisa datang kapan saja.—DKL

SITUASI SULIT BUKANLAH JALAN BUNTU DI TANGAN TUHAN, BISA JADI IA ADALAH PINTU

Read More

Tuesday, July 11, 2017

Admin

Ketika Allah Mendiagnosis Umat-Nya

By  
Renungan, Rabu 12 Juli 2017

Ketika Allah Mendiagnosis Umat-Nya

Bacaan   : Mazmur 51:1-13
Setahun : Mazmur 101-105
Nas       : Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! (Mazmur 51:4)



Pernahkah Anda marah-marah karena merasa kesakitan saat dokter menekan bagian dari tubuh Anda? Kemungkinan besar Anda tidak akan marah karena mengetahui alasan dokter melakukan hal tersebut. Ya, dokter sedang melakukan diagnosis awal untuk mendeteksi kemungkinan penyakit yang Anda derita. Bagian tubuh tertentu yang sakit ketika ditekan menandakan ada yang "tidak beres" dan perlu diobati.

Dalam kehidupan Daud, Allah sedang bertindak seperti dokter ketika Dia mengutus nabi Natan untuk menegur kesalahan dan dosanya (2Sam. 12). Untunglah Daud menyadari kesalahannya dan bertobat ketika Allah sedang "menekan" bagian yang tidak beres dalam hidupnya. Ia tidak marah ketika Tuhan menegurnya. Mazmur yang baru saja kita baca adalah ungkapan penyesalan dan pertobatan Daud. Ia berseru agar Allah membersihkan dirinya dari semua kesalahannya, serta menahirkan dia dari dosanya (ay. 2). Allah pun mengampuni Daud, sekalipun Daud tetap harus menanggung konsekuensi dari perbuatannya.

Dalam kehidupan ini, terkadang Tuhan akan bertindak seperti dokter, terutama ketika kita berbuat dosa. Caranya bisa bermacam-macam, salah satunya lewat teguran dari hamba Tuhan atau saudara seiman yang kita kenal. Barangsiapa membuka hatinya akan mengalami kesembuhan dan pemulihan, seperti yang dialami oleh Daud. Sebaliknya, barangsiapa menolak teguran Allah, kesembuhan dan pemulihan dari Allah tidak akan pernah dialami. Jika saat ini Allah sedang ingin "mengobati" kehidupan kita, maukah kita membuka hati supaya disembuhkan ? --GHJ/www.renunganharian.net


ALLAH TIDAK PERNAH SALAH
MENDIAGNOSIS KESALAHAN DALAM KEHIDUPAN KITA.


Read More
Admin

Berserah kepada Yesus

By  
Renungan, Selasa, 11 Juli 2017

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. —Roma 6:11


Mereka menyebutnya “Jejak Kaki Iblis”. Itu merupakan cetakan mirip jejak kaki pada batu granit yang terletak di sebelah gereja di Ipswich, Massachusetts, Amerika Serikat. Menurut legenda, “jejak kaki” tersebut muncul pada suatu hari di musim gugur tahun 1740, saat penginjil George Whitefield berkhotbah dengan begitu bersemangatnya hingga Iblis melompat dari menara gereja dan mendarat di batu granit tersebut ketika hendak melarikan diri keluar kota.

Walaupun itu hanya merupakan legenda, kisah tersebut mengingatkan kita tentang kebenaran firman Allah yang menguatkan kita. Yakobus 4:7 mengingatkan, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”

Allah telah memberi kita kekuatan yang diperlukan untuk melawan musuh dan pencobaan di dalam hidup kita. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa “[kita] tidak akan dikuasai lagi oleh dosa” (Rm. 6:14) karena kasih karunia Allah yang diberikan kepada kita melalui Yesus Kristus. Ketika kita dicobai dan kita berpaling kepada Tuhan Yesus, Dia akan memampukan kita untuk teguh berdiri dengan kekuatan-Nya. Tidak ada satu hal pun yang kita hadapi di dunia ini yang dapat mengalahkan-Nya, karena Dia “telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Sang Juruselamat akan menolong kita pada saat kita menyerahkan diri dan kehendak kita kepada-Nya dalam ketaatan kepada firman-Nya. Ketika kita memilih untuk berserah kepada-Nya dan tidak menyerah pada pencobaan, Dia sanggup menolong kita menghadapi pergumulan hidup ini. Di dalam Allah, kita pasti menang. —James Banks
Tuhan Yesus, aku menyerahkan kehendakku kepada-Mu hari ini. Tolong aku untuk selalu dekat dengan-Mu di setiap waktu dan mengasihi-Mu dengan selalu menaati-Mu.
Doa orang percaya yang terlemah sekalipun . . . membawa kengerian bagi Iblis. —Oswald Chambers



Read More

Sunday, July 9, 2017

Admin

Karib Dengan Tuhan

By  
Renungan, Senin 10 Juli 2017

Karib Dengan Tuhan


Nas: Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara    
     kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. (Keluaran 33:11)

Dengan sahabat karib, kita lebih mengenal sifat, kebiasaan dan kesenangannya. Kadang sebelum dia berbicara, kita sudah tahu apa maunya. Demikian pula Musa. Ia akrab dengan Tuhan. Keinginannya bisa ia ungkapkan langsung kepada Tuhan dengan berhadapan muka.

Padahal, tidak seorang pun yang dapat melihat Allah dan tetap hidup. Hanya orang yang suci hatinya yang dapat melihat Allah. Setelah peristiwa anak lembu emas, Musa membentangkan sebuah kemah di luar perkemahan orang Israel agar setiap orang yang mencari Tuhan dapat datang ke kemah itu. Ini merupakan anugerah bagi bangsa Israel, mengingat mereka adalah bangsa pemberontak. Dosa menghalangi keakraban mereka dengan Tuhan. Namun anugerah-Nya tetap nyata bagi mereka melalui Kemah Pertemuan. Di Kemah Pertemuan itu, Tuhan berbicara dan menyatakan janji penyertaan kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.

Bisa akrab dengan Allah tentu merupakan anugerah. Anugerah yang direspons dengan penyembahan dan ketaatan pada kehendak-Nya. Menjadi karib dengan Allah akan merasakan dan menikmati hadirat Tuhan. Bagi kita, Kristuslah pengantara kita yang mempersatukan kita dengan Allah. Melihat Kristus berarti melihat Allah karena di dalam Dialah seluruh kepenuhan Allah berada. Di dalam Kristus, kita dapat bergaul akrab dengan Allah, melalui persekutuan pribadi dengan Allah tiap-tiap hari. Namun tentu keakraban itu harus direspons dengan hidup suci dan taat pada firman-Nya.
--ENO/www.renunganharian.net * * *


KEAKRABAN DENGAN TUHAN
MEMBUAT KITA SEMAKIN MUDAH MENGERTI KEMAUAN-NYA.



Read More

Thursday, July 6, 2017

Admin

Minggu Tutup

By  

Renungan Hari Sabtu, 08 Juli 2017

Minggu Tutup

Bacaan   : Lukas 10:25-28
Setahun : Mazmur 78-80
Nas       : Kata Yesus kepadanya, "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10:28)

Minggu/Hari Libur Tutup. Informasi ini sering kita lihat di pintu atau kaca depan sebuah toko atau restoran. Namun, ada yang berbeda dengan gerai waralaba cepat saji bernama Chick-fil-A, yang diprakarsai oleh S. Truett Cathy. Seluruh gerai Chick-fil-A tutup pada hari Minggu supaya karyawan dapat beribadah, menikmati kebersamaan dengan keluarga, serta menyegarkan kembali kondisi karyawan sebelum kembali bekerja.

Komitmen S. Truett Cathy, mengenai tutupnya seluruh gerai Chick-fil-A pada hari Minggu dilandasi oleh rasa hormatnya akan hari Sabat. Komitmen yang menunjukkan bahwa pria yang meninggal pada September 2014 silam ini sangat mengasihi Tuhan. Namun tidak hanya itu, Cathy mewujudkan kasihnya kepada Tuhan dengan mengasihi para karyawan dan keluarga mereka. Ia bisa saja "memaksa" seluruh karyawan untuk bekerja pada hari Minggu, tetapi Cathy tidak melakukannya. Komitmen pria ini mengingatkan kita pada pengajaran Yesus tentang mengasihi Allah dan sesama. Dua hukum yang berbobot sama di hadapan Allah, juga sebagai rangkuman dari seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi. Bagi yang melakukannya, Yesus berkata, "Engkau akan hidup!"

Mengasihi Allah dan sesama seperti dua sisi koin mata uang- tak bisa dipisahkan karena saling melengkapi. Setiap hari, Tuhan juga membuka kesempatan bagi umat-Nya untuk mengasihi Dia dan sesama. Kita pun dapat melakukan dua hal tersebut pada hari ini juga, tanpa harus menunggu menjadi pemilik restoran waralaba. Mari kita lakukan! --GHJ/www.renunganharian.net

ORANG YANG MENGASIHI TUHAN AKAN TERPANCAR LEWAT KASIHNYA KEPADA SESAMA.

Read More
Admin

Kebaikan Sejati

By  

Renungan Hari Jumat, 07 Juli 2017.

Kebaikan Sejati

Karena saya bertumbuh besar di Jamaika, orangtua membesarkan saya dan saudara perempuan saya untuk menjadi “orang baik”. Di rumah kami, baik itu berarti menaati orangtua, bicara jujur, berhasil di sekolah dan pekerjaan, dan pergi ke gereja . . . setidaknya saat Paskah dan Natal. Saya pikir definisi tentang orang baik seperti itu dimiliki oleh banyak orang, apa pun budayanya. Bahkan di Filipi 3, Rasul Paulus memakai definisi “baik” dalam budayanya untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.

Sebagai orang Yahudi yang taat di abad pertama, Paulus mengikuti persis norma dan hukum moral dalam budayanya. Ia lahir dalam keluarga yang “baik”, berpendidikan “baik”, dan beragama dengan “baik”. Bisa dikatakan, Paulus adalah contoh ideal dari orang baik menurut budaya Yahudi. Di ayat 4, Paulus menulis bahwa ia bisa saja membanggakan semua kebaikannya itu. Namun, sebaik apa pun dirinya, Paulus menyatakan kepada pembacanya (dan kita semua) bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada menjadi orang baik. Ia tahu bahwa menjadi orang baik, meski itu sendiri adalah baik, tidaklah sama dengan menyenangkan hati Allah.

Menyenangkan hati Allah, seperti yang ditulis Paulus di ayat 7-8, berarti mengenal Yesus. Paulus menganggap segala kebaikan dirinya sebagai “sampah” jika dibandingkan dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, . . . lebih mulia dari pada semuanya.” Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri. —Karen Wolfe

Ya Allah, dalam usahaku menjalani hidup yang baik, tolonglah aku mengingat bahwa mengenal Yesus adalah satu-satunya jalan kepada kebaikan sejati.

Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri.

Read More

Wednesday, July 5, 2017

Admin

Melakukan Lebih Dahulu

By  

Melakukan Lebih Dahulu

Kami dengan sabar menolong anak kami untuk segera pulih dan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya bersama keluarga kami. Trauma dari pengalaman awalnya di panti asuhan telah memicu sejumlah perilaku negatif. Meskipun saya mencoba semampu saya untuk memahami segala kesulitan yang pernah ia alami, saya merasa mulai menarik diri secara emosional darinya karena perilakunya itu. Dengan malu, saya menceritakan pergumulan saya kepada terapisnya. Jawaban sang terapis menyentak saya dengan lembut: “Ia menunggu kamu untuk melakukannya lebih dahulu . . . untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia layak menerima kasihmu, sebelum ia bisa mengasihi kamu.”
Yohanes membawa para penerima suratnya untuk mengalami kedalaman kasih yang luar biasa, ketika ia menyebutkan kasih Allah sebagai sumber sekaligus alasan untuk mengasihi satu sama lain (1Yoh. 4:7,11). Saya harus mengakui bahwa saya sering gagal menunjukkan kasih seperti itu kepada sesama, baik itu orang yang tak saya kenal, teman-teman, atau anak-anak saya sendiri. Namun, kata-kata Yohanes ini membangkitkan dalam diri saya suatu keinginan dan kemampuan baru untuk mengasihi sesama: Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dia mengutus Anak-Nya untuk menunjukkan kepenuhan kasih-Nya bagi setiap dari kita. Saya sangat bersyukur Allah tidak menarik diri dari kita, sesuatu yang cenderung kita lakukan terhadap sesama.
Meskipun perbuatan dosa kita membuat kita tidak layak, Allah tetap kukuh untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita (Rm. 5:8). Kasih yang dinyatakan-Nya “lebih dahulu” mendorong kita untuk merespons dan mencerminkan kasih itu dengan saling mengasihi. —Kirsten Holmberg

Tuhan, terima kasih karena Engkau tetap mengasihiku meski aku berdosa. Tolonglah aku untuk “lebih dahulu” mengasihi orang lain.

Allah lebih dahulu mengasihi kita supaya kita bisa mengasihi sesama.

Read More

Tuesday, July 4, 2017

Admin

Kualitas Seorang Murid

By  


Bacaan   : Kisah Para Rasul 2:1-40
Setahun : Mazmur 60-66
Nas       : Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. (Kisah Para Rasul 2:36)

Kualitas Seorang Murid

Sebuah perusahaan setidaknya akan memerhatikan beberapa hal dalam merekrut seorang karyawan. Setidaknya terdapat tujuh hal, yaitu: kapabilitas, kapasitas, kreativitas, karakter, kredibilitas, komitmen, dan kompatibilitas calon karyawan. Para calon karyawan harus memenuhi syarat-syarat tersebut untuk dapat diterima.

Jika perusahaan lebih senang mencari karyawan yang berkualitas dan siap kerja, berbeda dengan Yesus. Dia justru lebih memilih murid-murid yang belum memenuhi syarat sebagai murid yang berkualitas. Bukan hanya ketika pertama kali Yesus memilih mereka, namun juga ketika dimuridkan oleh Yesus, bahkan hingga akhirnya Yesus mati dan bangkit kembali. Tidak ada tanda-tanda mereka telah memenuhi kriteria sebagai murid yang berkualitas. Salah satunya adalah Petrus. Mungkin Yesus sengaja memilih orang-orang biasa agar bisa Dia pakai secara luar biasa.

Semuanya menjadi berubah ketika Roh Kudus memenuhi mereka. Kuasa Tuhan mengubah hidup mereka. Petrus, murid yang pernah menyangkal Yesus karena ketakutannya, berubah menjadi seorang yang begitu berani memberitakan Kabar Baik kepada begitu banyak orang, sehingga 3.000 orang bertobat dan dibaptis (Kis. 2:41). Begitu pula para murid yang lain. Mereka dipakai secara luar biasa oleh Roh Kudus dalam memberitakan Kabar Baik.

Mungkin kita merasa tidak memiliki kualitas seorang murid yang baik. Kita merasa tidak layak menjadi murid-Nya. Namun, seperti Tuhan sanggup mengubah Petrus dan para murid lain dengan cara yang ajaib, begitu pula Dia sanggup mengubah kita sebagai murid-Nya.

--SPP/www.renunganharian.net

TUHAN DAPAT MEMAKAI SIAPA SAJA UNTUK MENJADI MURID-NYA,
BAHKAN YANG NAMPAK BURUK DI MATA DUNIA

Read More

Monday, July 3, 2017

Admin

BERJUANG SESUAI KEBENARAN

By  
Baca: Roma 10:1-3

Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi tanpa pengertian. (Roma 10:2

Saulus sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Ia membela agamanya dengan menggunakan kekerasan. Ia menindas “Jalan Tuhan”, mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan (Kis. 9:1-2). Saulus merasa sedang membela kebenaran, tetapi tanpa disadari ia sebenarnya menganiaya Tuhan. Setelah bertemu dengan Tuhan Yesus secara pribadi, Saulus mengalami jamahan-Nya dan hidupnya pun berubah. Ia kemudian dikenal sebagai Paulus. 

Dalam suratnya kepada jemaat Roma, Rasul Paulus memberi kesaksian tentang bangsa Israel bahwa mereka pun sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan berusaha untuk mendirikan kebenaran sendiri sehingga mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah (ay. 2-3). Nabi Hosea menyatakan, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah” (Hos. 4:6). 

Janganlah kita giat bagi Allah dengan pengertian yang salah. Banyak orang sungguh-sungguh giat membela “Tuhan” dengan menggunakan kekerasan, bahkan sampai mengorbankan nyawanya dan nyawa orang lain. Giat bagi Allah tanpa pengertian yang benar bisa membawa kepada kebinasaan. Orang seperti itu berusaha mendirikan kebenarannya sendiri dan tidak takluk kepada kebenaran Allah. Kebenaran Allah ada dalam Yesus dan hanya melalui Yesus saja kita diselamatkan (Yoh. 14:61:17). Janganlah kita bergantung kepada kebenaran pribadi. Hanya karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman, bukan oleh usaha atau upah melakukan sesuatu (Ef. 2:8-9).

—IN/www.renunganharian.net


MENEGAKKAN KEBENARAN SENDIRI MENDATANGKAN KEBINASAAN; 
MENGANDALKAN KEBENARAN ALLAH MENDATANGKAN KESELAMATAN




Read More

Sunday, May 15, 2016

Admin

Renungan Harian, Senin 16 Mei 2016

By  
LUPA DIRI

Bacaan     : 2 Samuel 12:1-14
Setahun    : 1 Tawarikh 14-16
Nats    : Telah Kuberikan isi rumah tuanmu kepadamu, dan isteri-isteri tuanmu ke dalam pangkuanmu. Aku telah memberikan kepadamu kaum Israel dan Yehuda; dan seandainya itu belum cukup, tentu Kutambah lagi ini dan itu kepadamu. (2 Samuel 12:8)

Perjalanan hidup Daud--dari seorang bocah, mengalahkan Goliat, menjadi orang kepercayaan raja, hingga akhirnya menjadi Raja Israel--memperlihatkan rancangan dan penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Daud juga hidup dalam ketaatan dan takut akan Tuhan. Namun, pada masa kejayaannya, Daud malah jatuh ke dalam dosa.
Dalam perikop hari ini, Tuhan mengutus Natan mendatangi Daud. Ia menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang memiliki banyak kambing domba dan lembu sapi dan orang miskin yang hanya memiliki seekor anak domba betina, yang dibeli dan dipeliharanya seperti anak perempuan. Ketika orang kaya itu kedatangan tamu, ia merasa sayang mengambil hewannya untuk dimasak dan dengan seenaknya mengambil domba betina kepunyaan si miskin. Mendengar kisah itu, Daud marah dan dengan tegas hendak menghukum si kaya. Natan menyatakan, orang kaya itu tidak lain Daud sendiri (ay. 7). Daud pun tertempelak. Ia memang telah mengambil isteri Uria dan tanpa merasa bersalah menyusun strategi perang yang akhirnya membuat Uria meninggal. Tampaknya Daud lupa diri. Karena merasa Tuhan di pihaknya, ia malah berbuat sesuka hatinya tanpa memikirkan akibatnya.
Kita bisa jadi juga pernah lupa diri. Lupa bahwa kita dulu orang berdosa dan kini telah ditebus oleh darah-Nya yang kudus. Lupa bahwa hidup kita seutuhnya adalah milik Allah. Lupa bahwa kita hidup untuk melakukan kehendak-Nya, yaitu mewartakan kabar baik. Oleh karena itu, janganlah sampai kita lupa akan jati diri kita. Jika kita lupa diri, dosa telah mengintip di depan mata. --Febrina Judith Hariandja/Renungan Harian

MENGINGAT IDENTITAS KITA DI HADAPAN TUHAN MENJAUHKAN KITA
DARI KESOMBONGAN YANG MENGAKIBATKAN LUPA DIRI.
Read More
Admin

Renungan Harian, Minggu 15 Mei 2016

By  
Pentakosta

Bacaan   : Kisah Para Rasul 2:1-13, 37-40
Setahun  : 1 Tawarikh 11-13
Nats     : Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita. (Kisah Para Rasul 2:39)

Bagi kebanyakan anak kecil, tampaknya hari Pentakosta kurang begitu berkesan jika dibandingkan Paskah, apalagi Natal. Mungkin karena mereka cenderung mengidentifikasikan pentingnya suatu peristiwa dengan kemeriahan dalam merayakannya. Dan memang biasanya Natal diwarnai dengan kehebohan latihan drama dan paduan suara, adapun Paskah dengan keasyikan menghias telur, sedangkan Pentakosta di peringati secara lebih syahdu dalam ibadah doa.
Bagi kita yang sudah dewasa dan bisa mencermati, Pentakosta kala itu adalah suatu peristiwa yang menghebohkan Yerusalem. Kerumunan orang banyak takjub mendengar para rasul, yang semuanya orang Galilea namun dapat bersaksi mengenai Yesus dalam berbagai bahasa. Bahkan pasca-Pentakosta, 3.000 jiwa menjadi percaya serta memberi dirinya dibaptis. Inilah momen lahirnya jemaat pertama. Pentakosta adalah peristiwa yang dahsyat!
Terlepas dari bagaimana bentuk perayaan Pentakosta di gereja kita masing-masing, alangkah baik kalau kita memanfaatkan Pentakosta tahun ini untuk bersehati berdoa memohon agar Yesus menyatakan kuasa Roh Kudus-Nya melalui kita, Gereja Tuhan pada akhir zaman ini, lebih hebat lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Agar kita, yang menerima janji itu (ay. 39), siap menyambut kedatangan-Nya. Seperti dikatakan dalam sebuah lagu: "Waktu Gereja bangkit di akhir zaman, semua orang kudus penuh kuasa-Nya... âku mau di sana!" Bukankah kita rindu berada di sana? --Shirleen Yohana/Renungan Harian

HARI PENTAKOSTA MENGINGATKAN GEREJA AKAN PANGGILAN
UNTUK MENYATAKAN KUASA TUHAN SAMPAI BUMI PENUH KEMULIAAN-NYA.
Read More

Monday, May 9, 2016

Admin

Renungan Harian, Selasa 10 Mei 2016

By  
Bacaan   : 2 Timotius 4:1-5
Setahun  : 2 Raja-Raja 24-25
Nats       : "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada a (Matius 28:19-20).

Siaga 24 jam

Pekerjaan di bidang kesehatan adalah profesi yang berat. Di tempat saya bekerja, seorang dokter harus siap siaga selama 24 jam. Bagaimanapun kondisi saat itu, baik sedang makan, minum, atau lelah, seorang dokter harus memberikan kualitas pelayanan yang optimal. Mengapa? Karena nyawa pasien tergantung pada tindakan dokter dan perawat, bagaimanapun letihnya kondisi fisik mereka. Bila mereka lengah, nyawa pasien dapat terancam. Ya, mereka harus siap kapan pun waktunya.

Kesiapan yang sama juga diharapkan dari seluruh pengikut Kristus. Dalam suratnya, Paulus berpesan pada Timotius, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya" (ay. 2a). Entah ketika ada kesempatan, entah ketika situasi pribadi Timotius baik, entah ketika ada pertentangan di jemaat, entah ketika Timotius sedang menderita, ia didorong untuk terus memberitakan kabar baik.

Amanat Agung Allah untuk menjadikan seluruh bangsa murid Kristus berlaku bagi kita semua. Bagaimanapun kondisi kita, baik atau buruk, kita dapat membagikan kasih Kristus pada orang lain. Bayangkan seandainya para dokter dan perawat letih sehingga memilih untuk tidak menolong pasien. Demikian halnya jika kita memilih diam karena kita letih dan tidak mau membagikan kasih Kristus, tentu banyak jiwa yang tidak pernah mendengar tentang Dia. Oleh karena itu, marilah kita siap sedia kapan pun waktunya untuk membagikan kasih Kristus! --Adeline Pasaribu/Renungan Harian

BERITAKANLAH INJIL SETIAP SAAT DAN BILA PERLU GUNAKAN KATA-KATA.

Read More

Saturday, May 7, 2016

Admin

Renungan Harian, Minggu 8 Mei 2016

By  
Bacaan : Wahyu 3:14-22
Setahun : 2 Raja-Raja 18-20
Nats : Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu,
Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)


Ketukan Pintu


Seorang pendeta yang saat ini bertugas di Malang melakukan hal yang belum pernah saya jumpai. Sebelum memulai pelayanannya di sebuah gereja di kota tersebut, ia terlebih dulu meminta diantar para anggota majelis untuk mengunjungi rumah setiap warga jemaat. Ia mengetuk pintu rumah mereka masing-masing dan berbincang dengan keluarga ini. Perlu waktu beberapa hari untuk mengunjungi rumah setiap warga.

Tuhan Yesus menyapa setiap pribadi yang ada di seluruh dunia ini. Sebagai gembala Dia mengetuk setiap hati supaya bersedia mengikuti-Nya. Dia akan membimbing siapa saja yang mau membukakan pintu untuk-Nya menuju jalan yang benar. Dia akan memimpin langkah setiap orang yang mengakui-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat menuju kehidupan kekal.

Tuhan Yesus pun mengetuk pintu hati kita. Ketika kita mau membukakannya, kita menerima Dia menjadi gembala atas hidup kita. Tetapi, bisa jadi saat ini hingar-bingar dunia membuat kita jauh dari jalan yang dikehendaki-Nya. Kita terlalu sibuk meraih segala pencapaian duniawi yang memuaskan kedagingan kita. Kegaduhan dunia sering membuat kita tidak mendengar saat Kristus mengajak kita menikmati persekutuan dengan-Nya.

Dia terus-menerus menyapa kita, mengingatkan kita tentang jalan yang seharusnya kita tempuh. Dia tidak mau kita tersesat. Jika kita telah terlampau jauh "menggelandang", ini saatnya kembali dan menikmati hidangan makan yang sudah disediakan-Nya: hidup selaras dengan kehendak-Nya. --Gigih Dwiananto/Renungan Harian

TUHAN YESUS RINDU BERSEKUTU DENGAN KITA;
APAKAH KITA BERGAIRAH MERESPONS KERINDUAN-NYA?
Read More

Tuesday, May 3, 2016

Admin

Renungan Harian, Rabu 4 Mei 2016

By  
Bacaan   : Daniel 3:13-18
Setahun : 2 Raja-Raja 9-10
Nats       : 
                Tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja                 dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu. (Daniel 3:18)

Berhala Modern


Apa yang menyebabkan Anda sering sekali tidak beribadah kepada Tuhan, baik pada hari Minggu untuk pergi ke gereja atau saat teduh pribadi Anda sendiri? Apa yang menjadi berhala kita untuk tidak datang menyembah Tuhan? Mungkin kesibukan mengurus rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk, pasangan kita, uang, atau apa pun bisa menjadi berhala kita.
Berhala umumnya adalah patung-patung yang menyerupai bentuk apa pun (benda mati). Dalam kisah di Perjanjian Lama ini, bentuknya sebuah patung emas dengan tinggi enam puluh hasta (kira-kira 27 meter) dan lebar enam hasta.
Tapi sesungguhnya berhala itu berarti mementingkan sesuatu lebih besar daripada mengutamakan Tuhan. Bukan sekadar patung, tetapi sesuatu yang merintangi kita untuk datang pada Tuhan.
Dalam kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang diperintahkan Raja Nebukadnezar untuk menyembah sebuah patung emas itu, mereka tetap berpegang teguh kepada kebenaran dan tidak berkompromi. Berpegang teguh pada kebenaran berarti kita harus mengenal kebenaran itu. Dan bagaimana kita dapat mengenal kebenaran kalau kita tidak bersekutu dengan Tuhan? Karena apa yang menurut dunia itu benar, belum tentu benar menurut Alkitab. Sementara tidak berkompromi berarti jika iya katakanlah iya dan jika tidak katakanlah tidak.
Seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang memiliki prinsip untuk tidak menyembah berhala, kita pun kiranya dapat memiliki keteguhan hati yang serupa. --Selly Miarani/Renungan Harian.


             BERANIKAH BERKATA TIDAK UNTUK BERHALA YANG MEMBUAT KITA JAUH DARI TUHAN ?

Read More