
Bukan Kehendakku, Tetapi Kehendak Tuhanlah yang Terjadi
Lukas 22:41-42
GBKP Runggun Cikarang


"Saya Sangat Tidak Menyukai Himne-Himne Dengan Nada-Nadanya Yang Membosankan. Tetapi Ketika Saya Sadar Bahwa Himne-Himne Tersebut Bagaimanapun Juga Dinyanyikan Dengan Penuh Kesetiaan Oleh Seorang Tua Yang Saleh Yang Mengenakan Sepatu Bot Dan Duduk Di Seberang Bangku Gereja Dan Kemudian Anda Sadar Bahwa Sebenarnya, Membersihkan Sepatu Botnya Pun Anda Tidak Layak. Dan Hal Ini Akan Menghilangkan Kesombongan Saya Yang Tersembunyi."



Renungan, Kamis 13 Juli 2017
KETIKA SITUASI SULIT
Baca: Keluaran 2:1-10
Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani” (Keluaran 2:6)
Jika berada dalam situasi sulit dan penuh risiko, bagaimana Anda menghadapinya? Mundur sebelum berjuang, pasrah tanpa usaha, atau menghadapinya habis-habisan? Ada sisi menarik dari bacaan hari ini yang dapat kita jadikan pelajaran.
Peristiwa penyelamatan bayi Musa dari bahaya melibatkan peran penting para perempuan di sekitarnya—dan masing-masing mewakili satu sikap. Sifra dan Pua adalah bidan yang takut akan Allah sehingga mereka enggan membunuh bayi Ibrani, meski tindakan itu bertentangan dengan aturan raja (1:17).
Yokebed adalah ibu yang kreatif memecahkan masalah (ayat 3). Ini tampak lewat gagasannya untuk menyelamatkan bayi Musa. Miriam, sang kakak, ialah pribadi pemberani. Ia tidak takut menemui putri Firaun demi perawatan adik bayinya (ayat 4, 7). Dan, putri Firaun ialah pribadi yang berbela rasa walau ia tahu bayi Musa adalah bayi orang Ibrani, kaum yang menjadi budak di negerinya (ayat 6).
Bahkan, dalam belas kasihnya, Putri Firaun mengangkat bayi itu sebagai anak (ayat 10). Takut akan Tuhan, kreativitas, keberanian, dan belas kasihan—itulah sikap-sikap dari para pribadi yang menghantar Musa kecil selamat dan bertumbuh besar (ayat 10).
Tentu ada banyak sikap yang bisa kita ambil sebagai respons saat menghadapi situasi sulit; dengan aneka rupa dampak yang mengikutinya. Keempat sikap yang kita cermati hari ini—di dalam kesadaran penuh akan kedaulatan Allah yang terlibat dan memegang kendali atas situasi apa pun—merupakan respons yang tepat dalam menghadapi situasi sulit yang bisa datang kapan saja.—DKL
SITUASI SULIT BUKANLAH JALAN BUNTU DI TANGAN TUHAN, BISA JADI IA ADALAH PINTU




Renungan Hari Sabtu, 08 Juli 2017
Minggu Tutup
Bacaan : Lukas 10:25-28
Setahun : Mazmur 78-80
Nas : Kata Yesus kepadanya, "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10:28)
Minggu/Hari Libur Tutup. Informasi ini sering kita lihat di pintu atau kaca depan sebuah toko atau restoran. Namun, ada yang berbeda dengan gerai waralaba cepat saji bernama Chick-fil-A, yang diprakarsai oleh S. Truett Cathy. Seluruh gerai Chick-fil-A tutup pada hari Minggu supaya karyawan dapat beribadah, menikmati kebersamaan dengan keluarga, serta menyegarkan kembali kondisi karyawan sebelum kembali bekerja.
Komitmen S. Truett Cathy, mengenai tutupnya seluruh gerai Chick-fil-A pada hari Minggu dilandasi oleh rasa hormatnya akan hari Sabat. Komitmen yang menunjukkan bahwa pria yang meninggal pada September 2014 silam ini sangat mengasihi Tuhan. Namun tidak hanya itu, Cathy mewujudkan kasihnya kepada Tuhan dengan mengasihi para karyawan dan keluarga mereka. Ia bisa saja "memaksa" seluruh karyawan untuk bekerja pada hari Minggu, tetapi Cathy tidak melakukannya. Komitmen pria ini mengingatkan kita pada pengajaran Yesus tentang mengasihi Allah dan sesama. Dua hukum yang berbobot sama di hadapan Allah, juga sebagai rangkuman dari seluruh Hukum Taurat dan kitab para nabi. Bagi yang melakukannya, Yesus berkata, "Engkau akan hidup!"
Mengasihi Allah dan sesama seperti dua sisi koin mata uang- tak bisa dipisahkan karena saling melengkapi. Setiap hari, Tuhan juga membuka kesempatan bagi umat-Nya untuk mengasihi Dia dan sesama. Kita pun dapat melakukan dua hal tersebut pada hari ini juga, tanpa harus menunggu menjadi pemilik restoran waralaba. Mari kita lakukan! --GHJ/www.renunganharian.net
ORANG YANG MENGASIHI TUHAN AKAN TERPANCAR LEWAT KASIHNYA KEPADA SESAMA.

Renungan Hari Jumat, 07 Juli 2017.
Kebaikan Sejati
Karena saya bertumbuh besar di Jamaika, orangtua membesarkan saya dan saudara perempuan saya untuk menjadi “orang baik”. Di rumah kami, baik itu berarti menaati orangtua, bicara jujur, berhasil di sekolah dan pekerjaan, dan pergi ke gereja . . . setidaknya saat Paskah dan Natal. Saya pikir definisi tentang orang baik seperti itu dimiliki oleh banyak orang, apa pun budayanya. Bahkan di Filipi 3, Rasul Paulus memakai definisi “baik” dalam budayanya untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.
Sebagai orang Yahudi yang taat di abad pertama, Paulus mengikuti persis norma dan hukum moral dalam budayanya. Ia lahir dalam keluarga yang “baik”, berpendidikan “baik”, dan beragama dengan “baik”. Bisa dikatakan, Paulus adalah contoh ideal dari orang baik menurut budaya Yahudi. Di ayat 4, Paulus menulis bahwa ia bisa saja membanggakan semua kebaikannya itu. Namun, sebaik apa pun dirinya, Paulus menyatakan kepada pembacanya (dan kita semua) bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada menjadi orang baik. Ia tahu bahwa menjadi orang baik, meski itu sendiri adalah baik, tidaklah sama dengan menyenangkan hati Allah.
Menyenangkan hati Allah, seperti yang ditulis Paulus di ayat 7-8, berarti mengenal Yesus. Paulus menganggap segala kebaikan dirinya sebagai “sampah” jika dibandingkan dengan “pengenalan akan Kristus Yesus, . . . lebih mulia dari pada semuanya.” Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri. —Karen Wolfe
Ya Allah, dalam usahaku menjalani hidup yang baik, tolonglah aku mengingat bahwa mengenal Yesus adalah satu-satunya jalan kepada kebaikan sejati.
Yang baik—dan menyenangkan Allah—adalah beriman dan berharap hanya kepada Kristus, bukan pada kebaikan diri kita sendiri.

Melakukan Lebih Dahulu
Kami dengan sabar menolong anak kami untuk segera pulih dan menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya bersama keluarga kami. Trauma dari pengalaman awalnya di panti asuhan telah memicu sejumlah perilaku negatif. Meskipun saya mencoba semampu saya untuk memahami segala kesulitan yang pernah ia alami, saya merasa mulai menarik diri secara emosional darinya karena perilakunya itu. Dengan malu, saya menceritakan pergumulan saya kepada terapisnya. Jawaban sang terapis menyentak saya dengan lembut: “Ia menunggu kamu untuk melakukannya lebih dahulu . . . untuk menunjukkan kepadanya bahwa ia layak menerima kasihmu, sebelum ia bisa mengasihi kamu.”
Yohanes membawa para penerima suratnya untuk mengalami kedalaman kasih yang luar biasa, ketika ia menyebutkan kasih Allah sebagai sumber sekaligus alasan untuk mengasihi satu sama lain (1Yoh. 4:7,11). Saya harus mengakui bahwa saya sering gagal menunjukkan kasih seperti itu kepada sesama, baik itu orang yang tak saya kenal, teman-teman, atau anak-anak saya sendiri. Namun, kata-kata Yohanes ini membangkitkan dalam diri saya suatu keinginan dan kemampuan baru untuk mengasihi sesama: Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dia mengutus Anak-Nya untuk menunjukkan kepenuhan kasih-Nya bagi setiap dari kita. Saya sangat bersyukur Allah tidak menarik diri dari kita, sesuatu yang cenderung kita lakukan terhadap sesama.
Meskipun perbuatan dosa kita membuat kita tidak layak, Allah tetap kukuh untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita (Rm. 5:8). Kasih yang dinyatakan-Nya “lebih dahulu” mendorong kita untuk merespons dan mencerminkan kasih itu dengan saling mengasihi. —Kirsten Holmberg
Tuhan, terima kasih karena Engkau tetap mengasihiku meski aku berdosa. Tolonglah aku untuk “lebih dahulu” mengasihi orang lain.
Allah lebih dahulu mengasihi kita supaya kita bisa mengasihi sesama.

Bacaan : Kisah Para Rasul 2:1-40
Setahun : Mazmur 60-66
Nas : Jadi, seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. (Kisah Para Rasul 2:36)
Kualitas Seorang Murid
Sebuah perusahaan setidaknya akan memerhatikan beberapa hal dalam merekrut seorang karyawan. Setidaknya terdapat tujuh hal, yaitu: kapabilitas, kapasitas, kreativitas, karakter, kredibilitas, komitmen, dan kompatibilitas calon karyawan. Para calon karyawan harus memenuhi syarat-syarat tersebut untuk dapat diterima.
Jika perusahaan lebih senang mencari karyawan yang berkualitas dan siap kerja, berbeda dengan Yesus. Dia justru lebih memilih murid-murid yang belum memenuhi syarat sebagai murid yang berkualitas. Bukan hanya ketika pertama kali Yesus memilih mereka, namun juga ketika dimuridkan oleh Yesus, bahkan hingga akhirnya Yesus mati dan bangkit kembali. Tidak ada tanda-tanda mereka telah memenuhi kriteria sebagai murid yang berkualitas. Salah satunya adalah Petrus. Mungkin Yesus sengaja memilih orang-orang biasa agar bisa Dia pakai secara luar biasa.
Semuanya menjadi berubah ketika Roh Kudus memenuhi mereka. Kuasa Tuhan mengubah hidup mereka. Petrus, murid yang pernah menyangkal Yesus karena ketakutannya, berubah menjadi seorang yang begitu berani memberitakan Kabar Baik kepada begitu banyak orang, sehingga 3.000 orang bertobat dan dibaptis (Kis. 2:41). Begitu pula para murid yang lain. Mereka dipakai secara luar biasa oleh Roh Kudus dalam memberitakan Kabar Baik.
Mungkin kita merasa tidak memiliki kualitas seorang murid yang baik. Kita merasa tidak layak menjadi murid-Nya. Namun, seperti Tuhan sanggup mengubah Petrus dan para murid lain dengan cara yang ajaib, begitu pula Dia sanggup mengubah kita sebagai murid-Nya.
--SPP/www.renunganharian.net
TUHAN DAPAT MEMAKAI SIAPA SAJA UNTUK MENJADI MURID-NYA,
BAHKAN YANG NAMPAK BURUK DI MATA DUNIA





