Showing posts with label Home. Show all posts
Showing posts with label Home. Show all posts

Friday, March 23, 2018

Unknown

Bukan Kehendak-Ku, Melainkan Kehendak-Mu yang Jadi!


Kehendakku Mungkin Saja ??

Saya senang menemani anak-anak saya dalam kegiatan ekstra kurikuler mereka. Saya sangat antusias memperhatikan mereka belajar dan berkembang, dan untuk menghibur mereka—ini adalah waktu luang yang paling saya rindukan. Saya memperhatikan mereka berenang, bermain hoki, mengendarai kuda, latihan beladiri, dll. (Saya punya empat anak, sehingga banyak sekali kegiatan yang harus saya hadiri). Sungguh itu merupakan suatu sukacita bagi saya.
Suatu kali, saya mengikuti kelas beladiri anak saya, dan dari dekat saya memperhatikan dengan seksama ia mempelajari beberapa teknik yang baru untuk menahan serangan musuh, melalui tendangan dan lain-lain. Sebelumnya memang ia telah meminta saya untuk mengambil tempat duduk yang terdekat, karena ia akan mempelajari beberapa “gerakan” yang baru. Pertunjukan sabuk hitam tersebut sangat mengesankan, namun yang lebih mengesankan bagi saya adalah bagaimana anak saya begitu maju kemampuannya dalam membuat gerakan-gerakan yang sulit. (Saya tidak sedang menyanjung sebagai ayahnya lho!)

Sementara saya duduk di sana, tidak jauh dari situ, sambil menikmati beberapa kegiatan di lantai gym, seorang anak berusia 3 atau 4 tahun mulai merengek meminta sesuatu kepada ibunya. Ibunya berkata, “Tidak,” dan matanya diarahkan kembali kepada anaknya yang lain yang sedang berlatih keras Tae Kwon Do. Tetapi ternyata “tidak” bukanlah jawaban yang tepat. Dapat Anda membayangkannya? Sekali lagi sang ibu memberikan anaknya yang kecil itu jawaban “tidak”, tetapi tampaknya sang anak tidak mempedulikan.
Dalam hitungan detik, bencana pun terjadi. Dengan mantap—di dalam jeritan dengan desibel yang terus naik karena semua anak kecil pasti tahu bahwa para orangtua biasanya tuli—anak itu memohon dengan sangat untuk keinginan hatinya, yakni, mainan anak yang lain. Sekali lagi, tetapi kali ini seperti halilintar yang menyambar, keluar lagi respons yang tegas, “Tidak!” “Ada apa dengan kamu? Apakah kamu tidak mengerti bahasa Inggris?” Sang ibu mengingatkan anaknya bahwa mainan itu bukan miliknya, melainkan milik orang lain.
Sang anak berlari ke tangga, menjerit, berteriak sekuat-kuatnya, tampaknya ia telah terlatih untuk itu. Sungguh luar biasa suara yang diciptakan oleh seorang anak kecil! Ia berguling-guling di lantai, berputar-putar, menolak jawaban “tidak” tadi. Sang ibu menjadi sangat malu untuk memberikan jawaban itu lagi. Wajahnya tiba-tiba menjadi penuh dengan warna, yang berubah-ubah seperti warna daun-daun di musim gugur di New England. Saya ingin membantu, tetapi saya takut keterlibatan saya itu malah akan membuat kejadian menjadi lebih buruk. Beberapa orangtua yang peduli pun hanya dapat memandang tanpa daya. Yang lain hanya memperhatikan apa yang akan terjadi kemudian. Apakah kami akan menjadi saksi suatu peristiwa pembunuhan? Yang lainnya lagi—yakni para wanita yang baik hati dan penuh perhatian—berinisiatif melakukan operasi penyelamatan. Saya rasa mereka mengetahui lebih baik daripada orang lain, tentang penderitaan sang ibu.
Peperangan itu terus berlanjut beberapa saat lamanya, Tetapi, sang ibu pun tidak dapat mengubah suasanan. Anak itu terus menjerit sampai terbatuk-batuk. Sang ibu pun pergi sambil menarik anaknya ke balik pintu. Saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian pada anak itu… saya tidak tahu apakah saya akan melihatnya lagi…
Tepat setelah pintu tertutup, seorang pria berjalan ke arah saya dan duduk di sebelah saya. Ia mengucapkan kata-kata sindiran tentang cara ibu tadi mengatasi masalah dan menjamin saya bahwa jika itu terjadi dengan anak-nya, pasti tidak seperti itu. Ketika ia menyadari bahwa saya tidak memujinya untuk hikmat yang ia miliki—karena saya sedang memikirkan ibu yang malang tadi—dengan cepat ia mengalihkan pembicaraan. Saya tidak bermaksud untuk menjadi orang yang acuh, tetapi sungguh-sungguh saya tidak ingin berbicara saat itu, karena saya sedang memfokuskan perhatian saya pada anak saya dan menunjukkan kepadanya bahwa saya memperhatikan setiap gerakannya yang hebat.
Pria di sebelah saya terus berbicara, kali ini tentang politik. Pertama ia memberikan kuliah tentang perang Irak, dan mengapa seharusnya perang itu ditanganani secara berbeda. Tampaknya ia memiliki segala maca jawaban untuk persoalan politik luar negeri A.S. Seandainya pemerintah mencari nasihat kepada orang ini…
Namun, ia kecewa dengan Pemerintah dan bahkan lebih kecewa lagi dengan kurangnya keterlibatan Kanada di Irak. Saya membuat sedikit saja komentar yang akhirnya ia kritik juga sebagai pernyataan yang tidak relevan dan keluar dari topik—meskipun saya tidak menyanggah pendapatnya tentang Kanada. Sejak itu saya berusaha bersikap lebih baik, mengangguk setuju dengan kata-katanya, padahal saya hanya berpura-pura mendengar. Saya berusaha untuk memperhatikan anak saya namun pria ini membuat situasi menjadi jauh lebih parah daripada kejadian ibu dan anak barusan. Seandainya saya bisa memilih di antara keduanya… Anda pasti tahu jawaban saya…
Kedua, ia mulai berbicara tentang agama, agama apa saja. Ia sangat marah dengan gereja Katholik, memaki-maki Paus, mengatakan bahwa ia dan agamanya tidak lebih daripada “mesin pencetak uang”. “Mereka ada hanya untuk menguras saku Anda,” kritiknya, “padahal, apa yang telah mereka lakukan untuk saya?” Namun ia cepat menambahkan, bahwa dia juga masih seorang Kristen sejati. Lalu ia mengatakan lagi, terdapat tiga jenis manusia yang pasti akan dilempar ke neraka: (1) politikus; (2) semua atlet profesional, dan, tentu saja (3) pengacara (Malang nian nasib pengacara!). Ia berkata bahwa mereka semua memiliki satu kesamaan: suka mencuri, menipu, dan memperkaya diri dari orang lain. Ketika saya menanggapi bahwa ia tidak menyebutkan satu jenis dosa, melainkan tiga, dengan cepat ia menjawab bahwa dalam kenyataannya ketiga jenis dosa ini merupakan satu paket!
Apapun yang saya katakan untuk membantunya memahami bahwa saya hanya ingin memperhatikan anak saya, ia tetap memaksa saya untuk memberi perhatian yang cukup bagi jiwanya yang sedang emosi. Seolah-olah ia mencekik leher saya dan memaksa saya untuk memberi telinga kepada permasalahannya, keluhan-keluhannya, dan pendapatnya. Itu merupakan suatu pengalaman yang menyesakkan, sampai rasanya saya sulit menghirup udara.
Mungkin Anda bertanya mengapa saya menggabungkan kisah tentang jeritan seorang anak yang memekakkan telinga dan seorang dewasa yang menjengkelkan. Ini yang hendak saya sampaikan: baik kita berusia tiga atau tiga puluh tahun, permintaan yang berpusat pada diri sendiri adalah sama buruknya! Sungguh! Dan bila kita melakukan hal itu kepada orang lain, pasti kita juga melakukannya kepada Tuhan.

Bukan Kehendakku, Melainkan Kehendak-Mulah yang Jadi!

Pernahkah Anda menghadap Allah dan tanpa malu meminta sesuatu dari keinginan Anda sendiri? Apakah Anda pernah mencekik leher Allah, kalau saya istilahkan, dan meminta-Nya untuk membereskan kehidupan Anda? Pernahkah Anda meminta supaya Ia datang melayani Anda, atau yang lain…? Jangan salah paham dulu. Saya tidak sedang berbicara tentang suatu doa yang terus-menerus, murni dan keluar dari hati. Melainkan saya sedang berbicara tentang suatu pemberhalaan. Saya sedang berbicara tentang, “Pokoknya aku ingin itu. Titik!”
Kita semua pernah—atau barangkali sekarang ini—dengan tangan kita yang kotor, memegang erat anak kita, harta benda, uang, harapan, dan hasrat-hasrat kita, kemudian meminta Allah supaya mendukung agenda kita, dan tak putus-putusnya “mengundang”Nya untuk memberkati ambisi-ambisi kita. Kita semua mirip baik dengan anak kecil itu maupun pria dewasa itu: kita memiliki keinginan kemudian kita meminta-minta kepada orang lain untuk meluluskan keinginan kita, termasuk kepada Allah.
Tetapi sikap seperti ini bukanlah pola kehidupan Kristen yang ditunjukkan Tuhan kepada kita dan yang Ia kehendaki dari kita. Ia menikmati suatu damai sejahtera yang tak tercemar dan tak terputus dalam hubungan dengan Allah, karena ia telah belajar tentang ketaatan melalui penderitaan-Nya (Ibrani 5:8). Ia tidak memalingkan hati-Nya dari Allah dalam suatu permintaan atau kemarahan, melainkan Ia berserah kepada Dia yang mengasihi-Nya. “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena ketaatan-Nya (bahasa Inggris: His reverent submission) Ia telah didengarkan.” (Ibrani 5:7).
Apakah “ketaatan” merupakan pola kehidupan kita? Berdasarkan Alkitab saya berani mengatakan bahwa ini adalah pola yang dirindukan Tuhan untuk dijalankan di dalam kehidupan Anda sekarang, supaya surga tidak menjadi suatu tempat yang aneh bagi Anda di kemudian hari. Neraka penuh dengan keinginan manusia, sedangkan surga penuh dengan kehendak-Nya. Neraka adalah tempat di mana orang bebas untuk melanjutkan pemberontakannya, tetapi ketahuilah dengan pasti bahwa “tidak ada damai sejahtera bagi si jahat.” Surga adalah bagi orang-orang yang telah melewati Getsemani bersama dengan Tuhan mereka dan yang telah mengatakan, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi, ya Tuhan!” Hal yang ganjil tentang ketaatan adalah dalam proses tersebut kita akan benar-benar menjadi manusia sejati. Dan apabila kita menolak untuk tunduk, mengangkat tangan kita terkepal ke udara, maka kita menjadi buruk dan jauh dari manusia sejati.
Sangat luar biasa dan mengguncangkan bumi, ketaatan Tuhan kepada Bapa-Nya seperti yang dinyatakan oleh gereja melalui kisah, pengajaran, puisi, penglihatan dan nyanyian. Barangkali salah satu lagu yang terbaik adalah Himne Kristus di dalam Filipi 2:5-11:
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri
dan mengambil rupa seorang hamba,
dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,
bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus
bertekuk lutut segala
yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku:
Yesus Kristus adalah Tuhan,
bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Himne tua ini—yang mungkin telah dinyanyikan di dalam gereja sebelum Paulus menuliskannya—adalah tentang penderitaan dan kemuliaan Kristus. Lagu itu dimulai dengan perintah untuk membiarkan semangat dari himne tersebut terserap sampai tulang-tulang Anda, dan untuk membiarkan kehendak Allah bergerak bebas melalui urat darah Anda, bahkan bila untuk itu Anda harus membayar dengan hidup Anda (ay. 5).
Lagu itu dapat dibagi menjadi dua bagian utama, ay. 6-8 dan ay. 9-11, yang bersama-sama membangun tema kembar tentang penderitaan dan peninggian. Di dalam 2:6-8 melodi himne itu memperdengarkan suatu catatan pahit-manis tentang ketaatan Kristus, penderitaan dan pengosongan diri-Nya. Di dalam 2:9-11, himne itu bergulir dengan suara kemenangan, yang mengisi ruangan dengan musik yang manis tentang peninggian Kristus dan kuasa yang diberikan kepada-Nya. Apakah Anda melihat pola itu? Pertama, ketaatan melalui penderitaan, kemudian peninggian yang mulia melalui kuasa Allah.
Apakah Anda memperhatikan pernyataan “bahkan sampai mati di kayu salib” di ay. 8? Tampaknya ini merupakan tambahan dari Paulus sendiri terhadap himne itu dan dengan jelas memfokuskan perhatian kita tidak hanya pada kesediaan Yesus untuk mati, yang menggambarkan suatu kedalaman yang tak terukur akan kesalehan dan kesetiaan-Nya yang tak pernah padam (Ibrani 12:2), melainkan juga kesediaan-Nya untuk menanggung malu dan penghinaan akan salib. Ia dihukum mati sebagai seorang kriminal. Dan kehinaan akan kematian-Nya itu menarik perhatian khusus kepada keindahan yang mulia dan kekuatan dari ketaatan-Nya sebagai seorang Anak di Getsemani. Perang di Golgota telah dimenangkan bukan di bukit itu, melainkan di taman di malam sebelumnya: “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi!” Sungguh, apa yang telah hilang di taman (Eden) kini telah kembali—bahkan lebih—juga di taman.
Saya tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan anak itu lagi. Barangkali… bila saya sering pergi ke Tae Kwon Do dojang, mungkin dia akan ada di sana bersama dengan ibunya. Saya juga tidak tahu apakah saya akan bertemu dengan pria dewasa itu lagi. Satu hal yang pasti, Allah telah memakai mereka berdua di dalam hidup saya hari itu. Melalui mereka Tuhan menunjukkan betapa kuatnya hati saya melekat pada mainan saya dan betapa saya hanya ingin untuk didengarkan. Melalui mereka Tuhan memperlihatkan saya keburukan dari dosa dan pemberontakan saya. Barangkali Ia juga memperlihatkan kepada Anda hal yang sama…
Tuhan, terima kasih untuk belas kasih-Mu yang begitu indah dan kasih-Mua yang tak pernah putus. Yesus aku bersyukur karena bukan hanya kematian-Mu menyelamatkan aku, melainkan juga memberikan kepadaku suatu pola kehidupan. Engkau telah memanggilku kepada suatu kehidupan yang dipenuhi dengan jawaban “ya” bagi-Mu dan “tidak” bagi keinginanku sendiri. Maka itu aku menyerah kepada-Mu. Tuhan, apapun yang Engkau ingini, dengan anugerah-Mu akan kulakukan. Aku hanya ingin menyukakan-Mu. Aku mengasihi-Mu Bapa dan aku menyerahkan hatika kepada-Mu. Terima kasih untuk sukacita berjalan dalam hadirat-Mu!

Read More

Monday, March 19, 2018

Unknown

Pergumulanku untuk Memahami Jawaban “Tidak” dari Tuhan







Oleh Peregrinus Roland, Cilacap

Dalam hidupku, aku sering meminta hal-hal yang sederhana kepada Tuhan. Aku pernah meminta supaya Tuhan memberikan cuaca yang cerah, jalanan yang tidak macet, ataupun nilai yang baik saat aku mengikuti ujian sekolah dulu.
Namun, pada kenyataannya, tidak semua permintaan kecilku itu terwujud sesuai dengan keinginanku. Kadang, aku jadi sedih. Tapi, itu hanya untuk sesaat dan tidak sampai membuatku kecewa pada Tuhan.
Tapi, ketika aku berdoa memohon supaya Tuhan mewujudkan hal besar dalam hidupku dan Tuhan tidak mengabulkannya, aku pun jatuh dalam kekecewaan mendalam.

Aku pernah meminta pada Tuhan supaya papaku disembuhkan dari penyakitnya. Tapi, Tuhan menjawab tidak. Dia memanggil pulang papaku di saat aku tidak berada di sisinya. Lalu, ketika aku meminta supaya orang yang kusuka menjadi pasangan hidupku, lagi-lagi Tuhan menjawab tidak. Cintaku ditolak. Aku patah hati. Dan, yang terakhir, ketika aku meminta pada-Nya supaya bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar yang kudambakan, Tuhan kembali menjawab tidak. Aku gagal dalam tahapan psikotes dan harus kembali melamar pekerjaan di tempat lain.

Ketika Tuhan memberikan jawaban “tidak” atas doaku, rasanya berat bagiku untuk menerimanya. Aku merasa Tuhan itu seperti tidak peduli kepadaku dengan membiarkan hal-hal buruk terjadi menimpa hidupku.
Namun, tatkala aku menceritakan pergumulan ini kepada temanku, aku merasa tertegur oleh sebuah ayat dari Yesaya 30:15 yang berkata:
“Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”

Teguran ini membuatku mengintrospeksi diriku dan doa-doaku. Selama ini, aku mendapati alih-alih berdoa untuk mengizinkan Tuhan merenda jalan hidupku, aku malah menyetir Tuhan untuk tunduk pada kemauanku dan memaksa-Nya memberkatiku. Aku merasa bahwa rancanganku sendiri adalah yang terbaik. Sehingga, ketika Tuhan tidak mewujudkannya, aku pun menjadi khawatir dan juga kecewa. Di saat inilah, aku tidak sedang menempatkan Tuhan sebagai Pribadi yang penuh kuasa, melainkan hanya seperti seorang pembantu yang harus taat pada apa yang kuinginkan.

Akhirnya, aku sadar bahwa aku telah memaknai doa dengan cara yang salah. Oleh karenanya, aku perlu bertobat. Raja Daud memberikanku contoh yang baik dalam membangun kehidupan doa yang berkenan kepada-Nya. Dalam Mazmur 25:1-5 Daud berdoa:
“Kepada-Mu, ya TUHAN, kuangkat jiwaku…Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarilah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.”

Daud berdoa bukan supaya Tuhan mengikuti apa yang jadi kehendaknya, melainkan supaya Tuhan memimpin dan menuntun hidup Daud. Aku belajar bahwa bagian yang terpenting dalam sebuah doa bukanlah permintaan kita, tetapi Allah sendirilah yang paling penting. Oleh karenanya, dalam permohonan Daud untuk meminta pimpinan-Nya itu, Daud mengawalinya dengan menyerahkan dirinya kepada Allah.
Ketika aku memahami kebenaran ini, aku pun dimampukan untuk dapat memaknai jawaban “tidak” yang pernah Allah berikan dalam doa permohonanku. Aku pun mengubah isi doaku dari yang semula mendikte Tuhan untuk mengabulkan doaku, menjadi doa yang berisi penyerahan diri kepada tuntunan-Nya.
Tatkala papaku sakit, menjelang kematiannya Papa yang semula cukup anti dengan gereja malah jadi sering berdoa dan berulang kali ingin ikut ibadah di gereja. Kupikir ini adalah hal yang teramat baik. Papa mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan aku tentu percaya bahwa meski secara fisik Papa telah meninggal, tapi Papa telah berada di surga bersama Tuhan.

Tatkala cintaku ditolak oleh seseorang yang kuyakini tepat menjadi pasangan hidupku, aku belajar untuk percaya bahwa apa yang menurutku terbaik itu belum tentu terbaik menurut Tuhan. Tuhan pasti menyediakan seorang lain yang sepadan untukku.
Tatkala aku gagal mengikuti seleksi pekerjaan, aku pun belajar untuk percaya bahwa kegagalan ini bukanlah akhir dari perjalanan hidupku. Aku perlu berusaha lebih keras dan tidak menyerah. Kelak, perjuanganku inilah yang akan menjadi bekal supaya aku dapat menjadi seorang pekerja yang tangguh.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa meski Tuhan menjawab permohonanku dengan jawaban “tidak”, itu tidak berarti bahwa Dia sedang tidak mempedulikanku. Tapi, Dia sedang meyakinkanku bahwa Dia memiliki sesuatu yang lebih baik untukku. Sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagiku.

Read More

Friday, March 16, 2018

Unknown

Bagaiman kamu mengenal Tuahan pertama kali ?







Bagaimana pengalamanmu mengenal Tuhan Yesus pertama kali? Bagimana Cerita Kamu ?
Read More
Unknown

“Bagiku, Paskah adalah . . .”


Read More
Unknown

Jadwal Perayaan Paskah GBKP Runggun Cikarang 2018

Jadwal Perayaan Paskah GBKP Runggun Cikarang 2018.


Read More

Monday, July 3, 2017

Admin

Acara Penyambutan Pdt.Ekwin Wesly Ginting, S.Th, M.Div di GBKP Cikarang.

By  

Acara Penyambutan Pdt.Ekwin Wesly Ginting, S.Th, M.Div, tanggal 02 Juli 2017 di GBKP Cikarang

 Kebaktian minggu pada tanggal 02 juli 2017 di GBKP Cikarang diadakan acara Acara Penyambutan Pdt.Ekwin Wesly Ginting, S.Th, M.Div.
Pendeta Ekwin Wesly Ginting, S.Th, M.Div merupakan pendeta defenitif pertama yang ditempatkan di GBKP Cikarang oleh Moderamen dan Klasis Bekasi Denpasar sebagai Pendeta penuh waktu. Selama ini GBKP Cikarang dilayani oleh Pdt. I.B Manik sebagai pendeta paruh waktu.
Acara penyambutan ini juga diadakan kebaktian membuka kunci rumah Pendeta ( rumah pastori ) yang telah di siapkan sebelumnya untuk menyambut Pdt. Ekwin Ginting. Dalam sambutanya Pdt.Andreas Joseph Tarigan, S.Th, M.Div ini merupakan salah satu sejarah penting bagi GBKP Cikarang dalam proses perjalannya sebagai sebuah Runggun.

Dari runggun Sitelu Sada juga memberikan kata sambutan dalam acara sambut ini, runggun Sitelu Sada merupakan tempat Pendeta Ekwin Ginting bertugas sebagai pendeta penuh waktu.
Sebagai acara penyambutan dan ramah tamah, sambutan juga di sampaikan oleh BPMR Cikarang, BP Mamre, BP Moria, BP Permata, BP Ka-Kr dan juga sambutan Pengurus PJJ dari setiap sektor ( Betlehem, Yerusalem, Getsmane, Sion dan Nazaret ).


Setelah semua memberikan kata sambutan, Pendeta Ekwin Ginting juga memberi kata sambutan sebagai penutupan dari rangkaian kata sambutan yang telah di sampaikan sebelumnya.

Acara penyambutan ini juga di meriahkan dengan acara landek-landek dan keyboard.
Read More

Saturday, May 7, 2016

Admin

KERJA RANI / PESTA PANEN

By  
Kerja Rani Pengataken Bujur Arah Ulih Pendahinta

LATAR BELAKANG

Wari raya kerja rani merupaken sada pengataken bujur man Dibata, erkite kiteken enggo ipasu pasu Dibata dahin dahinta, adi nai i tengah tengah bangsa Israel gandum enggo mbuah ras mereken hasil man bangsa Israel. I tengah tengah kalak karo nai, ija pendahin mayoritas kujuma janah nuan page serentak kerina.

APLIKASI 

Nggejap Dibata enggo masu-masu page sini isuan janah erbuah bage pe rani. Erkiteken si e tergejap pasu-pasu Tuhan, sebab adi lakin ban Tuhan labo berhasil page sini isuan e, kai i usahaken manusia adi la ipasu pasu Tuhan labo banci berhasil. Emaka setiap kali rani ibereken ulih rani e, 2 pelegan (2 kaleng page) persembahen man Tuhan sebagai pengataken bujur. Dasarna kita erbahan pesta kerja rani banci sibandingken ras Ulangen 16 : 9 -12, II Kor 9 : 6 -9. 

Genduari kita mereken kerja rani arah ulih pendahinta ibas sada tahun lanai berbentuk page sebab lanai nari kita nuan page, tapi berupa sen, hasil pencarinta ntah ulih latihta, sebab sigejap ipasu pasu Tuhan pendahinta emaka iberekenNa ulih man banta guna kebutuhen kebutuhenta. 

Emaka sirenung-renungken ras sidiskusiken ras keluarganta asa kai nge si patut si bereken man Tuhan rikutken pasu-pasu Tuhan ku tengah tengah keluarganta selama sada tahun enda. Ula kita mekarus mere man Tuhan sebab kalak simekarus mere man Tuhan labo ate Tuhan ngena. Si inget-inget kerina pasu pasu Tuhan, ras penampatna, keleng atena man banta, emaka siarihken ras anak jabunta asakai sipatut siakap kerja raninta, jenari sibaba ku Gereja.
Read More

Monday, May 2, 2016

Admin

GARIS-GARIS BESAR PELAYANAN GBKP

By  

GARIS-GARIS BESAR  PELAYANAN (GBP) Tahun 2016-2020,
GEREJA BATAK KARO PROTESTAN (GBKP)

Download GBP GBKP 2016-2020
Read More
Admin

TATA GEREJA GBKP

By  
TATA GEREJA GBKP

PERIODE 2015-2025

Download  Tata GBKP
Read More
Admin

Grand Opening GBKP Runggun Cikarang

By  

GBKP Cikarang yang telah disyahkan menjadi Jemaat/Runggun pada sidang GBKP klasis Jakarta-Bandung tanggal 10-12 Oktober 2014 di Hotel Rudian-Puncak,sebelumnya sudah memiliki tempat beribadah, namun seiring bertambahnya anggota jemaat, tempat ibadah yang ada dianggap tidak lagi memadai sehingga pada tanggal 26 Februari 2012 GBKP Cikarang membeli dua ruko dan setelah direnovasi ditempat inilah jemaat beribadah. Dan pada tanggal 25 Januari 2015 dilakukan Grand Opening/Pentahbisan Tempat Ibadah GBKP Runggun Cikarang sekaligus penyambutan Pdt. Imanuel B Manik sebagai pendeta yang diminta runggun ini untuk membantu pelayanan.


Acara grand opening ini dimulai pada pukul 08.30 Wib diawali pengguntingan pita oleh GT Surbakti, Pt.Em.NJ. Sembiring, Pt. Beton Karo Sekali, Dolat Sembiring & Ferdinand Ginting Manik yang adalah mewakili para donatur pada waktu penggalangan dana pembelian ruko ini, dilanjutkan pembukaan kunci dan ibadah Minggu oleh Pdt.Sabar S. Brahmana (Ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung) dan sebagai liturgis Pt. Imanuel Singarimbun.

Setelah ibadah selesai dilanjutkan penyambutan Pdt. Imanuel B. Manik dan keluarga dengan memberikan kesempatan memperkenalkan, kemudian dilanjutkan kata-kata sambutan. Kata sambutan yang pertama disampaikan ketua panitia AKBP Pergunan Tarigan dan ketua Pantia Pembangunan GBKP Cikarang, Otanius Ginting, kata sambutan kedua disampaikan Letjen TNI (Purn) Amir Sembiring dan Pt.Em. Putra Kaban mewakili para donatur, kata sambutan yang ketiga
disampaikan ketua GBKP Klasis Jakarta-Bandung, Pdt.Sabar S.Brahmana, kata sambutan yang ke empat disampaikan Pt. Ferdinand Ginting Manik (Kabid Koinonia) yang mewakili GBKP Runggun Bekasi, kata sambutan yang terakhir disampaikan ketua jemaat/Runggun GBKP Cikarang, Pt. Repelita Ginting.

Grand Opening ini dimeriahkan persembahan puji-pujian Permata GBKP Cikarang, VG Gabungan Jemaat Cikarang, Solo Netta Katrina br. Ginting
Read More

Monday, April 4, 2016

Admin

Sejarah Berdirinya Gereja Batak Karo Protestan

By  
Profile GBKP


Pekabaran Injil pertama ke daerah Karo merupakan jamahan tangan Tuhan untuk menyampaikan berita Keselamatan kepada masyarakat Karo. Kehadiran Pekabar Injil pertama di daerah Karo, dibagi atas dua kurun waktu oleh Lembaga Penelitian dan Studi DGI. Kurun waktu yang pertama disebut masa-masa permulaan, mulai tahun 1890-1906. Kurun waktu yang kedua disebut masa-masa Penanaman dan Penggarapan, mulai tahun 1906-1940.

Masa-masa Permulaan (1890-1906)

Pekabaran Injil periode pertama ini diterima masyarakat Karo dengan permusuhan. Masyarakat Karo menentang Belanda karena Belanda mengambil tanah rakyat untuk ditanami tembakau. Orang Karo menunjukkan perlawanannya dengan membakar gudang-gudang tempat menyimpan tembakau pada malam hari, merusak tanaman tembakau dan bahkan mengancam jiwa para pengusaha.

Mr. J.T. Cremer, kepala administrasi Deli Mij, mengumpulkan dana sebanyak f. 30.000,- pertahun, sebagai biaya penjinakan orang Karo dengan cara kristenisasi. Cremer berpendapat bahwa jalan satu-satunya untuk mengamankan perkebunan mereka adalah dengan melembutkan hati orang Karo dengan cara pemberitaan Injil. Kemudian Cremer mengadakan perjanjian dengan Nederlandsche Zending Genoothchac (NZG), sebuah zending yang ada di Negara Belanda untuk mengirim tenaga-tenaga Pekabar Injil ke Deli.

Tanggal 18 April 1890, Pdt. H.C. Kruyt dan Nicolas Pontoh, dari Minahasa, tiba di Belawan untuk penginjilan orang Karo. Mereka memilih desa Buluh Awar menjadi pos pelayanan. Di Buluh Awar, mereka mulai mempelajari bahasa Karo dan adat istiadatnya. Mereka mengadakan pendekatan-pendekatan dengan perbuatan baik untuk menciptakan suasana yang akrab dengan masyarakat setempat dengan tidak jemu-jemu.

Pekabar Injil Pertama, berani mempertaruhkan nyawanya, demi berita Injil untuk orang Karo. Motivasi penginjil NZG untuk menginjili orang Karo jauh melebihi motivasi dari pengusaha-pengusaha perkebunan yang membiayai penginjilan tersebut. Penginjil menghadapi banyak kendala, mulai dari kebencian orang Karo kepada orang Belanda, komunikasi dalam bahasa Karo yang belum mereka pahami, dan juga ancaman keselamatan nyawa mereka. Namun penginjil ini tidak mundur untuk memberitakan berita keselamatan kepada orang Karo.

Pada masa permulaan penginjilan, para penginjil memberikan pelayanan pendidikan umum di lima desa, masing-masing didirikan satu pos pelayanan. Masing-masing sekolah dipimpin oleh Guru Injil dari Minahasa serta mengadakan kerja sama dengan Kepala Desa setempat. Mereka membagi pos-pos sebagai berikut:

Pdt H.C.Kruyt dan Nicolas Pontoh di desa Buluh Awar.
Gr. Injil Benyamin Wenas di desa Salabulan.
Gr. Injil Johan Pinontoan di desa Sibolangit.
Gr. Injil Ricardo Tampenawas di desa Pernengenen.
Gr. Injil Hendrik Pesik di desa Tanjung Baringin
Pendidikan yang dilakukan ini mendapat curiga dari masyarakat setempat. Masyarakat setempat menganggap ini adalah siasat Belanda untuk mencari simpati rakyat. Hambatan ini ditanggulangi dengan cara pendekatan melalui Kepala Desa setempat. Mereka secara bersama-sama mengadakan penyuluhan serta pertemuan-pertemuan dengan masyarakat desa. Setelah empat tahun pendidikan di lima desa itu, maka merekapun sudah mempunyai 39 orang murid.

Masyarakat Karo memiliki kepercayaan tertentu terutama mengenai pengobatan penyakit-penyakit. Banyak pengobatan tradisional Karo yang pada umumnya berbaur dengan kepercayaan leluhur. Banyak penyakit yang diobati dengan cara tradisional dan tingkat kematian tinggi karena sakit peyakit. Penginjil ditantang untuk bekerja keras dan belajar tentang perawatan kesehatan dan obat-obatan. Mereka tidak hanya mempelajari bidang pengobatan medis, tetapi juga mempelajari pengobatan tradisional Karo. Para penginjil ini pergi melayani, kapan dan dimana saja orang membutuhkan pelayanan kesehatan. Pekabar injil menggunakan kesempatan di mana saja dan kapan saja, untuk mengabarkan kabar kesukaan. Setelah tiga tahun kemudian, terjadi suatu kabar yang menggembirakan dan memang ditunggu-tunggu, yaitu pembabtisan pertama yang dilakukan kepada orang Karo sebagai buah Injil yang telah mereka beritakan. 22 Agustus 1893, dilakukan babtisan yang pertama terhadap enam orang suku Karo di desa Buluh Awar.

Tanggal 24 desember 1899 ditahbiskan Gereja Batak Karo yang pertama di Buluh Awar. Semua nyanyian yang dinyanyikan pada saat pentahbisan ini adalah nyanyian dalam bahasa Karo yang sudah duterjemahkan oleh para penginjil. Saat itu jumlah anggota jemaat 56 orang, sementara yang sudah dibabtis sebanyak 17 orang dan disidi 4 orang. Sekolah yang didirikan NZG 4 buah dengan murid 93 orang.

Masa-masa Penanaman dan Penggarapan (1906-1940)

Kurun waktu kedua dinamakan masa penanaman dan penggarapan, ini meliputi tahun 1906 sampai 1940. Dapat dikatakan bahwa yang berperan pada masa sebelumnya adalah seluruhnya di luar orang Karo. Tetapi, pada masa penanaman dan penggarapan ini orang Karo sudah ikut terlibat.

Pada masa penanaman dan penggarapan banyak dilakukan pembangunan-pembangunan, di bidang kesehatan masyarakat dengan membangun poliklinik-poliklinik dan rumah-rumah sakit. Leluhur Karo sangat mengkaitkan sedemikian rupa antara penyakit, kekuasaan alam gaib, dan roh-roh leluhur serta sistem pengobatan yang pada dasarnya adalah tanpa pembayaran materi, tetapi di dalam kaitan kekeluargaan. Merupakan suatu penghinaan terhadap seorang Guru Mbelin, yang dianggap masyarakat sebagai manusia keramat, mau ditantang oleh para pekabar injil pertama dengan penyuluhan-penyuluhan kesehatan. Penyuluhan kesehatan ini pada umumnya menolak hal yang tahayul. Tidak jarang pada zaman itu, pelayan harus menanggung berbagai penderitaan di dalam penyampaian kasih melalui pelayanan kesehatan ini.

Untuk pengembangan pendidikan masyarakat dibangun rumah-rumah sekolah dan sarana belajar lainnya. Lulusan sekolah ini akan menjadi pelopor di tengah-tengah masyarakat. Pengembangan prekonomian masyarakat Karo dilakukan dengan pengadaan sarana pertanian. Pembangunan irigasi dan pemanfaatan tanah dikembangkan bersama masyarakat. Pembukaan jalan sampai ke dataran tinggi Karo memberikan peluang yang besar kepada masyarakat untuk memasarkan hasil produksinya. Pembangunan yang dimotori oleh para penginjil membawa hasil yang cukup memuaskan, oleh karena tumbuh kesediaan dan kesadaran masyarakat Karo sendiri.

Pendidikan sebagai ujung tombak pelayanan sangat relevan, karena pemuda lebih terbuka dengan sesuatu yang baru. Serta di alam pikiran yang baru itu, mereka dengan berani mencetuskan pikiran-pikirannya sehingga pembaharuan tersebut lebih cepat tercapai. Sebagai generasi penerus, mereka menciptakan alam yang baru di dalam generasinya. Dengan demikian, pendidikan sekolah tersebut disamping mendidik para pembaharu, juga memberlakukan pembaharuan itu sendiri.

Semenjak itu Gereja Kristen Karo yang kemudian dikenal dengan Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) berkembang sekalipun sangat lambat. Dari Buluh Awar penginjilan berkembang ke wilayah sekitarnya. Selanjutnya ke Kabanjahe, dan wilayah lain di dataran tinggi Karo. Seterusnya ke daerah Pancur Batu tahun 1927. Daerah Langkat dimulai penginjilan tahun 1921 dan gereja pertama ditakbiskan tahun 1929. Di Medan sudah ada kebaktian tahun 1937 dan di Jakarta tahun 1939 sudah ada perkumpulan masyarakat Karo Sada Kata dan di Bandung perkumpulan masyarakat Karo Sada Perarih.
Read More