Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, March 23, 2018

Unknown

Bukan Kehendakku, Tetapi Kehendak Tuhanlah yang Terjadi

























Lukas 22:41-42
JIKA berdoa, apa yang kita minta pada Tuhan ? Tentu banyak. Yang sering kita minta, biasanya yang pertama adalah minta kesehatan, minta umur panjang, minta kekayaan dan juga minta jabatan serta lain sebagainya. 
Bahkan sering yang kita minta kalau boleh Tuhan segera mengaruniakan semua itu sesuai dengan keinginan kita. Itulah sebabnya ada yang kecewa jika belum atau tidak mendapatkannya.
Lebih dari itu ada yang berhenti untuk berdoa. Ada yang berpikir bahwa percuma berdoa, Tuhan tidak mendengar doa saya apalagi kalau Hal ini ditunjukkan oleh Yesus, ketika Ia berdoa, Ia bukan saja mengekspersikan kepasrahan tapi meng-ekspresikan ketaatan mutlak pada kehendak Bapa di Sorga. Ia meminta kepada Bapa jikalau boleh cawan penderitaan berlalu dari pada-Nya; tetapi dalam ketaatan-Nya pada Bapa, Ia berkata : tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”
Sebagai keluarga Kristen, tiap-tiap kita mempunyai berbagai kebutuhan dan keinginan. Semua ini sering kita nyatakan dalam doa kepada Tuhan. Dan kalau kita berdoa, maka janganlah kita berdoa menurut keinginan kita masing-masing  atau memaksa apalagi seperti mengatur Tuhan untuk melakukan sesuatu pada kita.
Sadar atau tidak, kita menjadikan Tuhan seperti pembantu kita untuk melakukan ini dan itu. Seharusnya kita mengatakan : biarlah kehendak Tuhan yang jadi, bukan kehendak kami. Semoga hal ini dapat kita praktekkan dalam kerja, karya dan doa kita. Amin. lama berdoa ,  sudah bertahun-tahun, siang dan malam berdoa, tidak ada jawaban.
Jika kita belajar dari bagian ayat yang kita baca ini , ternyata berdoa bukalah hal yang mudah tetapi juga bukan hal sulit karena ternyata berdoa berkaitan dengan soal kepasrahan hati, yakni kepasrahan untuk mengatakan bukan kehendak saya yang jadi tapi kehendak Tuhan. 

Doa :  Bapa di Sorga kami percaya bahwa Engkau selalu mendengar doa kami. Banyaklah yang kami mintakan kepada-Mu. Kami percaya sebelum kami menyatakan-Nya, Engkau telah mengetahuinya. Kamipun bermohon jadilah kehendak-Mu dalam keluarga kami, bukan kehendak kami. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.


Read More

Thursday, March 22, 2018

Unknown

APAKAH ANDA DATANG KE GEREJA SEBAGAI KONSUMEN ?







APAKAH ANDA DATANG KE GEREJA SEBAGAI KONSUMEN?


Philip Yancey |

Memandang ke Sekeliling
Saya terbiasa datang ke gereja dengan semangat konsumen. Saya memandang pujian seperti sebuah pertunjukan. Berikan saya sesuatu yang saya suka. Hiburlah saya.

Soren Kierkegaard berkata bahwa kita cenderung berpikir bahwa gereja itu seperti sebuah teater: kita duduk sebagai penonton, dengan penuh perhatian menonton sang aktor yang berada di atas panggung yang berusaha menarik setiap pasang mata untuk melihatnya. Kalau memuaskan, kita berterima kasih dengan bertepuk tangan atau memberikan sorakan. Namun, sebenarnya gereja harus menjadi yang sebaliknya dari teater. Di dalam gereja Tuhanlah yang menjadi penonton dan bukannya kita.

Pada akhir dari puji-pujian, pertanyaan yang seharusnya dikemukakan bukanlah, “Apa yang saya dapatkan dari semua ini?” tetapi “Apakah Tuhan puas dengan apa yang sudah terjadi?” Sekarang, sewaktu kebaktian penyembahan, saya mencoba untuk mengarahkan pandangan saya kepada Tuhan, dan bukannya pada apa yang saya lihat di atas podium.

Perubahan semacam ini menolong saya untuk menghadapi kekurangan-kekurangan yang saya temui di dalam berbagai macam gereja. Beberapa gereja melibatkan orang awam untuk terlibat di dalam penyembahan. Mereka mengarang lagu atau puisi, memainkan drama singkat, bernyanyi dalam trio dan mengekspresikan diri mereka dengan tari-tarian. Saya mengakui bahwa dengan penilaian standar estetika yang obyektif, dan bahkan dengan standard “cara menyembah” yang subyektif,  banyak dari cara-cara yang semacam ini tidak mempertinggi nilai penyembahan saya.

Saya mencoba belajar dari C.S Lewis, yang menulis tentang gerejanya sebagai berikut:
"Saya Sangat Tidak Menyukai Himne-Himne Dengan Nada-Nadanya Yang Membosankan. Tetapi Ketika Saya Sadar Bahwa Himne-Himne Tersebut Bagaimanapun Juga Dinyanyikan Dengan Penuh Kesetiaan Oleh Seorang Tua Yang Saleh Yang Mengenakan Sepatu Bot Dan Duduk Di Seberang Bangku Gereja Dan Kemudian Anda Sadar Bahwa Sebenarnya, Membersihkan Sepatu Botnya Pun Anda Tidak Layak. Dan Hal Ini Akan Menghilangkan Kesombongan Saya Yang Tersembunyi."

Pada prinsipnya, gereja berdiri untuk kita memuji Tuhan, bukannya untuk menyediakan hiburan atau memberi semangat kepada orang-orang yang terluka atau membangun kepercayaan diri atau memberi fasilitas dalam menjalin persahabatan;  kalau kita gagal dalam hal memuji Tuhan, berarti kita gagal secara keseluruhan.

Di dalam gereja, saya dapat melihat ke podium sebagai penonton, atau saya juga bisa melihat ke atas, kepada Tuhan. Allah pernah berkata kepada bangsa Israel, “Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu dan kambing jantan dari kandangmu, sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.” Karena banyak memperhatikan hal-hal di luar penyembahan, akibatnya mereka sudah kehilangan tujuan keseluruhan.

Allah hanya tertarik dengan korban persembahan hati, sikap penundukan diri, dan pengucapan syukur. Sekarang, sewaktu saya menghadiri gereja, saya mencoba untuk memfokuskan diri pada keadaan rohani yang ada di dalam diri saya sendiri daripada hanya duduk di bangku gereja, seperti yang terjadi di dalam sebuah teater dan membuat penilaian-penilaian estika.

(Dikutip dan diedit seperlunya dari buku Gereja: Mengapa dirisaukan?)




Read More

Monday, July 17, 2017

Admin

GEREJA YANG BERBAGI

By  
Renungan, Selasa 18 Juli 2017

Baca: 2 Korintus 9:6-15

Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. (2 Korintus 9:7)

Seorang penulis anonim bersyair tentang gereja yang hidup dan yang mati: Gereja yang hidup selalu mengeluarkan dana lebih besar dari pendapatannya; gereja yang mati tidak butuh banyak uang. Gereja yang hidup mendukung pelayanan misi; gereja yang mati menyimpan sendiri uangnya. Gereja yang hidup penuh dengan orang yang memberi dengan sukacita; gereja yang mati penuh dengan penggerutu yang susah memberi. Gereja yang hidup mensponsori dibukanya gereja baru; gereja yang mati takut berbagi dana, waktu, dan talenta. Gereja yang hidup berani berbagi oleh iman mereka dalam Kristus; gereja yang mati merasa tak punya cukup sumber daya untuk berbagi! 

Paulus menegaskan bahwa ketika kita berani berbagi dan memberi, maka kita akan diperkaya secara rohani. Dan, secara mengejutkan, hati orang yang memberi dengan sukacita tidak akan merasa kehilangan. Sebab, setiap orang yang memberi, ia juga melayani. Hal ini melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (ay. 12). Menurut penelitian A.T. Robertson, bahasa asli kata “melimpahkan” di sini berarti “memenuhi dengan menambahkan terus”. Betapa indahnya bila segala berkat rohani itu terus ditambahkan bagi kita—tak habis-habis—yakni saat kita mulai berbagi! 

Agar gereja bertumbuh, hidup, dan bergerak dinamis, mau tak mau ia harus berbagi. Ketika setiap anggotanya punya gaya hidup saling berbagi dan memberkati, maka ucapan syukur terus bertambah. Pelayanan pun terus bergerak dan berkembang. Lebih banyak jiwa terus tertarik untuk bergabung. Mari, hidupkan gereja kita!

—AW/www.renunganharian.net

                                                 KETIKA GEREJA MULAI TERBUKA UNTUK BERBAGI 
BARULAH IA MULAI DITERIMA SEBAGAI SAKSI
Read More

Thursday, July 13, 2017

Admin

Bertatap Muka

By  
Renungan, Jumat 14 Juli 2017

Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya. —Keluaran 33:11

 Meski saat ini dunia kita sudah terhubung secara elektronik dengan begitu luasnya, tetap saja tidak ada yang dapat mengalahkan kebersamaan yang dilakukan dengan tatap muka. Saat kita bertukar cerita dan tertawa bersama, tanpa disadari, kita bisa merasakan perasaan lawan bicara kita hanya dengan melihat mimik mereka. Para kerabat atau sahabat yang saling mengasihi tentu merasa senang sekali apabila mereka dapat bertemu dan bertatap muka.

Kita melihat hubungan seperti itu terjadi antara Tuhan dengan Musa, orang yang dipilih Allah untuk memimpin umat-Nya. Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun, Musa semakin mantap mengikut Allah. Ia bahkan terus mengikut Allah walaupun bangsanya memberontak dan menyembah berhala. Setelah bangsa itu menyembah anak lembu tuangan dan bukan Tuhan (lihat Kel. 32), Musa mendirikan kemah di luar perkemahan sebagai tempat untuk bertemu Allah, sementara bangsa itu melihatnya dari kejauhan (33:7-11). Ketika tiang awan yang melambangkan kehadiran Allah turun ke kemah itu, Musa berbicara atas nama bangsanya. Allah berjanji bahwa kehadiran-Nya akan menyertai mereka (ay.14).

Karena kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya, kita tidak lagi membutuhkan seseorang seperti Musa untuk berbicara kepada Allah bagi kita. Sebaliknya, seperti yang dinyatakan Yesus kepada murid-murid-Nya, kita dapat menjalin persahabatan dengan Allah melalui Kristus (Yoh. 15:15). Kita pun dapat berjumpa dengan Allah, saat Dia berbicara kepada kita seperti seseorang berbicara kepada sahabatnya. —Sheridan Voysey

Nanti muka dengan muka langsung akan kukenal. Tuhan Yesus, Juruselamat, Pengasihku yang kekal! —Carrie E. Breck (Kidung Jemaat, No. 267)

Kita dapat berbicara kepada Tuhan layaknya berbicara dengan sahabat.
Read More

Wednesday, July 12, 2017

Admin

KETIKA SITUASI SULIT

By  

Renungan, Kamis 13 Juli 2017

KETIKA SITUASI SULIT

Baca: Keluaran 2:1-10

Ketika dibukanya, dilihatnya bayi itu, dan tampaklah anak itu menangis, sehingga belas kasihanlah ia kepadanya dan berkata: “Tentulah ini bayi orang Ibrani” (Keluaran 2:6) 

Jika berada dalam situasi sulit dan penuh risiko, bagaimana Anda menghadapinya? Mundur sebelum berjuang, pasrah tanpa usaha, atau menghadapinya habis-habisan? Ada sisi menarik dari bacaan hari ini yang dapat kita jadikan pelajaran.

Peristiwa penyelamatan bayi Musa dari bahaya melibatkan peran penting para perempuan di sekitarnya—dan masing-masing mewakili satu sikap. Sifra dan Pua adalah bidan yang takut akan Allah sehingga mereka enggan membunuh bayi Ibrani, meski tindakan itu bertentangan dengan aturan raja (1:17).

Yokebed adalah ibu yang kreatif memecahkan masalah (ayat 3). Ini tampak lewat gagasannya untuk menyelamatkan bayi Musa. Miriam, sang kakak, ialah pribadi pemberani. Ia tidak takut menemui putri Firaun demi perawatan adik bayinya (ayat 4, 7). Dan, putri Firaun ialah pribadi yang berbela rasa walau ia tahu bayi Musa adalah bayi orang Ibrani, kaum yang menjadi budak di negerinya (ayat 6).

Bahkan, dalam belas kasihnya, Putri Firaun mengangkat bayi itu sebagai anak (ayat 10). Takut  akan Tuhan,  kreativitas, keberanian, dan belas kasihan—itulah sikap-sikap dari para pribadi yang menghantar Musa kecil selamat dan bertumbuh besar (ayat 10).

Tentu ada banyak sikap yang bisa kita ambil sebagai respons saat menghadapi situasi sulit; dengan aneka rupa dampak yang mengikutinya. Keempat sikap yang kita cermati hari ini—di dalam kesadaran penuh akan kedaulatan Allah yang terlibat dan memegang kendali atas situasi apa pun—merupakan respons yang tepat dalam menghadapi situasi sulit yang bisa datang kapan saja.—DKL

SITUASI SULIT BUKANLAH JALAN BUNTU DI TANGAN TUHAN, BISA JADI IA ADALAH PINTU

Read More

Tuesday, July 11, 2017

Admin

Ketika Allah Mendiagnosis Umat-Nya

By  
Renungan, Rabu 12 Juli 2017

Ketika Allah Mendiagnosis Umat-Nya

Bacaan   : Mazmur 51:1-13
Setahun : Mazmur 101-105
Nas       : Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! (Mazmur 51:4)



Pernahkah Anda marah-marah karena merasa kesakitan saat dokter menekan bagian dari tubuh Anda? Kemungkinan besar Anda tidak akan marah karena mengetahui alasan dokter melakukan hal tersebut. Ya, dokter sedang melakukan diagnosis awal untuk mendeteksi kemungkinan penyakit yang Anda derita. Bagian tubuh tertentu yang sakit ketika ditekan menandakan ada yang "tidak beres" dan perlu diobati.

Dalam kehidupan Daud, Allah sedang bertindak seperti dokter ketika Dia mengutus nabi Natan untuk menegur kesalahan dan dosanya (2Sam. 12). Untunglah Daud menyadari kesalahannya dan bertobat ketika Allah sedang "menekan" bagian yang tidak beres dalam hidupnya. Ia tidak marah ketika Tuhan menegurnya. Mazmur yang baru saja kita baca adalah ungkapan penyesalan dan pertobatan Daud. Ia berseru agar Allah membersihkan dirinya dari semua kesalahannya, serta menahirkan dia dari dosanya (ay. 2). Allah pun mengampuni Daud, sekalipun Daud tetap harus menanggung konsekuensi dari perbuatannya.

Dalam kehidupan ini, terkadang Tuhan akan bertindak seperti dokter, terutama ketika kita berbuat dosa. Caranya bisa bermacam-macam, salah satunya lewat teguran dari hamba Tuhan atau saudara seiman yang kita kenal. Barangsiapa membuka hatinya akan mengalami kesembuhan dan pemulihan, seperti yang dialami oleh Daud. Sebaliknya, barangsiapa menolak teguran Allah, kesembuhan dan pemulihan dari Allah tidak akan pernah dialami. Jika saat ini Allah sedang ingin "mengobati" kehidupan kita, maukah kita membuka hati supaya disembuhkan ? --GHJ/www.renunganharian.net


ALLAH TIDAK PERNAH SALAH
MENDIAGNOSIS KESALAHAN DALAM KEHIDUPAN KITA.


Read More